falalamo.com – Otoritas Iran merespons dingin klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kemajuan kesepakatan damai.
Teheran justru menarik kesimpulan sebaliknya; setiap kali Trump bicara soal perdamaian, hal itu menjadi sinyal kuat bahwa eskalasi perang besar segera meletus.
Melansir laporan Al Jazeera, Senin (30/3/2026), para pejabat Iran kini mengabaikan narasi diplomasi Washington dan memilih fokus penuh pada persiapan menghadapi kemungkinan invasi darat militer AS.
Pihak Iran menilai pujian Trump yang menyebut Teheran sebagai “pihak yang masuk akal” hanyalah taktik manipulatif.
Mereka membaca mentalitas pemerintahan Trump sebagai pola yang berbahaya: memuji sebelum menghantam.
Alih-alih memantau perkembangan diplomasi di Islamabad, militer Iran kini memperketat penjagaan di seluruh perbatasan.
Teheran memprediksi intensifikasi perang akan terjadi justru saat Trump sibuk sesumbar soal kesepakatan di depan media.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melayangkan peringatan keras kepada Gedung Putih.
Ia menegaskan bahwa pengerahan pasukan darat ke tanah Iran hanya akan menyeret Amerika ke dalam perang yang berkepanjangan dan mematikan.
“Pengerahan pasukan darat berarti perang panjang. Ini akan menjadi skenario terburuk bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu,” tegas Ghalibaf.
Iran menyadari betul bahwa perang ini sangat tidak populer di mata publik Amerika dan belum mendapatkan restu dari Kongres AS.
Namun, mereka tetap bersiap untuk konfrontasi fisik yang paling brutal.
Teheran mengklaim memiliki posisi tawar yang setara jika Amerika nekat melakukan invasi darat.
Iran telah menyiagakan ratusan ribu pasukan reguler yang didukung oleh ratusan ribu pasukan paramiliter Basij.
Para pejabat militer Iran menyatakan bahwa seluruh elemen kekuatan rakyat siap membela kedaulatan negara.
Mereka memperingatkan Trump bahwa invasi darat hanya akan menghasilkan tumpukan peti mati tentara Amerika, yang pada akhirnya akan menghancurkan karier politik sang Presiden di dalam negeri. (*)













