falalamo.com – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terhadap industri media.
Pemerintah mengancam akan mencabut lisensi siar bagi outlet berita yang dianggap melakukan “distorsi” atau pemberitaan negatif terkait perang AS-Israel melawan Iran.
Dilansir dari Al Jazeera, Minggu (15/3/2026), Ketua Komisi Komunikasi Federal (FCC) Brendan Carr menegaskan bahwa lembaga penyiaran harus beroperasi demi kepentingan publik.
Jika tidak, izin siar mereka terancam tidak diperpanjang.
Carr secara spesifik menargetkan media-media yang menurutnya menyebarkan hoaks atau informasi yang menyesatkan terkait konflik di Timur Tengah tersebut.
“Lembaga penyiaran yang menjalankan hoaks dan distorsi berita—yang juga dikenal sebagai fake news—memiliki kesempatan sekarang untuk memperbaiki arah sebelum masa pembaruan lisensi mereka tiba,” tulis Carr dalam unggahan media sosialnya.
Langkah ini langsung memicu gelombang protes dari aktivis kebebasan pers. Senator Hawaii, Brian Schatz, menilai ancaman ini sebagai bentuk sensor nyata yang dilakukan negara.
Menurutnya, ini adalah perintah terang-terangan agar media hanya memberikan liputan perang yang positif bagi pemerintah.
Pernyataan keras dari FCC ini merupakan respons atas kemarahan Donald Trump terhadap pemberitaan media.
Sebelumnya, sejumlah media melaporkan adanya pesawat pengisi bahan bakar AS yang hancur akibat serangan rudal Iran di sebuah pangkalan di Arab Saudi.
Trump membantah keras laporan tersebut melalui platform Truth Social. Ia menyebut pangkalan memang terkena serangan, namun pesawat-pesawat tersebut hanya mengalami kerusakan ringan dan sudah kembali beroperasi.
“Media-media rendah ini sebenarnya ingin kita kalah dalam perang ini,” tulis Trump dengan nada geram.
Senada dengan Trump, Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga menyalahkan media atas merosotnya dukungan publik terhadap perang.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru Quinnipiac, sebanyak 53 persen pemilih AS kini menentang aksi militer terhadap Iran.
Hegseth meminta para jurnalis untuk lebih “patriotik” dalam membuat judul berita. Ia mengkritik penggunaan kalimat dramatis seperti “Perang Timur Tengah Memuncak” di layar televisi.
“Apa yang seharusnya ditulis? Bagaimana kalau ‘Iran Semakin Putus Asa’? Karena memang begitulah kenyataannya,” ujar mantan pembawa acara Fox News tersebut.
Hegseth bahkan secara terbuka menyerang jaringan berita CNN. Ia berharap agar CNN segera diambil alih oleh investor yang merupakan sekutu dekat Trump guna mengubah haluan pemberitaannya. (*)













