Labuha, falalamo – Kapolres Halmahera Selatan AKBP Hendra Gunawan membantah tudingan anggotanya melakukan pemukulan terhadap masa aksi dalam demo ricuh Selasa (2/9/2025).
Dia menegaskan luka yang dialami demonstran kemungkinan akibat pantulan batu atau bambu bendera.
“Yang jelas kita tidak memukul, tidak mungkin kita pukul apalagi perempuan,” tegas Hendra saat memberikan keterangan kepada falalamo.com,
Sebelumnya, Ketua KOHATI BADKO HMI Maluku Utara Aisun Salim dilaporkan menjadi korban pemukulan aparat saat demo berujung ricuh di depan kantor Bupati Halsel.
Kapolres menjelaskan, aksi dimulai sebagai penyampaian aspirasi namun terjadi ketegangan hingga saling dorong-mendorong.
Situasi memanas ketika massa berupaya menemui anggota DPRD.
“Setelah DPRD hadir, terjadi pelemparan makanya kami bertindak. Ada dua korban luka akibat gesekan di lapangan, satu perempuan satu laki-laki,” ungkap alumni Akpol 2006 ini.
Hendra mengaku telah menjenguk kedua korban dan menyatakan luka mereka sudah tertangani. Dia mengaku prihatin dengan kejadian tersebut.
Pria berlatar belakang hukum itu mengaku masih mendalami kronologi kejadian.
Dia menduga luka pada korban bukan akibat tindakan aparat.
“Pada saat dorong-dorongan kami tidak tahu apakah dia kena lemparan batu pantulan atau bagaimana, kami belum tahu. Kalau dilihat dari video, banyak bambu bendera itu bisa jadi kena pantulan,” jelasnya.
Kapolres juga menyayangkan aksi yang berubah anarkis. Dia mengaku telah berupaya memfasilitasi penyampaian aspirasi namun massa justru melempar aparat.
“Saya menghimbau kepada teman-teman kalau menyampaikan aspirasi jangan anarkis, tapi tertib. Kami coba fasilitasi tapi malah dilempar-lempar,” ujar Hendra.
Dia berjanji akan menyelidiki lebih lanjut kronologi kejadian untuk mengungkap kebenaran.
Sebelumnya, BADKO HMI Maluku Utara menuntut Kapolres Halsel dicopot karena dinilai gagal mengendalikan anggotanya.
Mereka juga mendesak pemrosesan oknum polisi yang diduga memukul aktivis perempuan. (*)












