Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
HukrimInternasionalPeristiwa

Iran Kutuk Israel atas Pembunuhan Tiga Jurnalis di Lebanon

×

Iran Kutuk Israel atas Pembunuhan Tiga Jurnalis di Lebanon

Sebarkan artikel ini
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (foto: Reuters)

Abbas Araghchi menyebut serangan Israel terhadap tiga jurnalis di Lebanon sebagai pembunuhan terencana yang melampaui sekadar aksi militer biasa — sebuah operasi untuk membungkam pers.

 

falalamo.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras pembunuhan tiga jurnalis di Lebanon oleh Israel pada Minggu (29/3/2026).

Ia menyebut serangan itu bukan sekadar operasi militer, melainkan pembunuhan yang secara sengaja diarahkan kepada para pekerja media.

Kecaman itu disampaikan Araghchi melalui saluran Telegram resminya, yang selama berlangsungnya perang kawasan ini menjadi salah satu platform utama komunikasi publik para pejabat Iran.

“Pembunuhan tersebut bukan hanya kerugian besar bagi komunitas media di kawasan dan dunia, tetapi juga peringatan serius bagi hati nurani global,” tulis Araghchi.

Araghchi secara eksplisit menolak kemungkinan bahwa kematian ketiga jurnalis itu adalah dampak sampingan dari operasi militer.

Baca Juga  Simak Peran Kunci dalam Proyek Pasar Tuokona yang Jerat Ahmad Hadi

Ia menegaskan bahwa serangan tersebut memiliki tujuan yang jauh lebih spesifik: membungkam suara-suara yang menyampaikan kebenaran dari medan perang.

“Tindakan ini, yang jelas merupakan pembunuhan terarah dengan tujuan di luar sekadar melenyapkan individu, adalah upaya nyata untuk ‘menakut-nakuti kebenaran’ dan membungkam suara mereka yang mengatakan kebenaran,” kata Araghchi.

Pernyataan itu sekaligus menjadi tuduhan langsung terhadap Israel: bahwa pembunuhan jurnalis bukan insiden, melainkan kebijakan.

Data jurnalis yang tewas di perang
Ilustrasi angka jurnalis yang tewas dalam peliputan perang di timur tengah (creator/falalamo.com)

Israel Punya “Sejarah Panjang” Targetkan Jurnalis

Araghchi tidak berhenti pada kecaman atas insiden terkini.

Ia menyebut bahwa Israel memiliki “sejarah panjang” dalam menargetkan para profesional media — sebuah pola yang menurutnya merupakan “pelanggaran nyata” terhadap hukum dan konvensi internasional yang berlaku.

Tuduhan ini bukan tanpa dasar faktual. Sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023, komunitas pers internasional telah berulang kali mendokumentasikan pola serangan Israel yang menyasar jurnalis secara sistematis.

Baca Juga  3.600 Kapal Terkatung-katung di Selat Hormuz, Iran Patok Tarif Melintas Rp 32 Miliar

Israel, Pembunuh Jurnalis Terbanyak dalam Sejarah

Apa yang dituduhkan Araghchi senada dengan temuan lembaga-lembaga internasional terkemuka.

Komite untuk Melindungi Jurnalis (CPJ) dalam laporan tahunannya yang dirilis Februari 2026 menyebut Israel sebagai pemerintah yang paling banyak membunuh jurnalis sejak CPJ mulai mendokumentasikan data pada 1992.

Sepanjang 2025 saja, 129 jurnalis tewas di seluruh dunia — angka tertinggi dalam sejarah pencatatan CPJ.

Israel bertanggung jawab atas dua pertiga dari total korban tersebut, dengan 86 anggota pers tewas akibat serangan Israel, mayoritas adalah warga Palestina yang meliput dari Gaza.

CPJ juga mencatat bahwa Israel melakukan 38 dari 47 kasus pembunuhan berencana terhadap jurnalis yang terdokumentasi secara global sepanjang tahun itu — atau 81 persen dari seluruh kasus pembunuhan jurnalis yang terklasifikasi sebagai murder di seluruh dunia.

Baca Juga  Pemimpin Tertinggi Iran Diklaim Tewas, Teheran Bantah: Khamenei dalam Keadaan Sehat

Drone menjadi senjata yang paling banyak digunakan, dengan 28 kasus serangan drone Israel yang menewaskan jurnalis hanya di Gaza.

Secara keseluruhan sejak 7 Oktober 2023, hampir 300 jurnalis dan pekerja media telah tewas akibat serangan Israel, menurut data dari Shireen.

ps — situs pemantau yang dinamai dari koresponden senior Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, yang ditembak mati oleh pasukan Israel di Tepi Barat pada 2022.

CEO CPJ Jodie Ginsberg menyatakan bahwa tidak ada satu pun pelaku yang dimintai pertanggungjawaban dari seluruh kasus pembunuhan jurnalis yang terdokumentasi.

“Kita semua berada dalam risiko ketika jurnalis dibunuh karena melaporkan berita,” katanya.

 

Sumber: Al Jazeera; Laporan Tahunan CPJ 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *