falalamo.com – Krisis di Selat Hormuz dilaporkan telah memasuki fase paling kritis dan krusial.
Jalur urat nadi perdagangan dunia tersebut kini berada di bawah kendali penuh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menyebabkan ribuan kapal logistik internasional terhenti tanpa kepastian.
Pengamat geopolitik yang aktif di media soaial, Tengku Zulkifli Usman, mengungkapkan bahwa Iran telah menyiagakan seluruh kekuatan senjatanya untuk menguasai selat tersebut secara efektif.
Menurutnya, tidak ada satu pun kapal yang diizinkan melintas tanpa restu langsung dari petinggi IRGC.
“Pemimpin Tertinggi Iran telah memberikan instruksi khusus kepada IRGC: tutup total akses bagi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya,” tulis Tengku Zulkifli dalam unggahannya di Meta, dikutip Ahad (22/3/2026).
Bagi negara yang tidak termasuk dalam daftar blokade AS-Sekutu, Iran dilaporkan menerapkan syarat lobi yang sangat ketat dan biaya melintas yang fantastis.
Jika sebelumnya akses ini gratis, kini setiap negara disebut harus merogoh kocek hingga USD 2 juta atau sekitar Rp 32 miliar hanya untuk satu kali melintas.
Kondisi ini diperparah dengan rencana Iran menggodok undang-undang di parlemen untuk mempermanenkan aturan “selat berbayar” dan memperketat pengawasan di masa depan.
Dampak dari kebijakan keras Teheran ini mulai terlihat nyata di lapangan. Saat ini, diperkirakan ada 3.600 kapal dengan sekitar 40.000 awak yang terombang-ambing di laut tanpa nasib yang jelas.
Lalu lintas di Selat Hormuz kini terpantau sepi. Dalam sehari, hanya ada sekitar 7 hingga 12 kapal yang melintas, mayoritas berasal dari China, Pakistan, Rusia, atau kapal milik Iran sendiri.
Akibat penutupan ini, industri maritim dunia terguncang. Biaya asuransi kapal melonjak drastis, sementara biaya sewa kapal tanker (charter rate) kini naik gila-gilaan mencapai USD 400.000 (sekitar Rp 6,2 miliar) per hari.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump disebut tengah dalam posisi terjepit. Upaya militer untuk membuka paksa selat tersebut dinilai mengandung risiko yang terlalu besar bagi Washington.
Kapal-kapal perang AS dikhawatirkan akan menjadi sasaran empuk rudal Iran.
AS sempat mempertimbangkan operasi militer untuk menguasai Pulau Kharg milik Iran guna menekan Teheran, namun opsi tersebut dinilai sangat rumit dan berisiko tinggi.
“Penutupan Selat Hormuz adalah pukulan keras untuk AS, sekaligus runtuhnya wibawa maritim internasional Amerika. Hanya Iran yang berani memberi pelajaran seperti ini kepada AS,” pungkas Tengku Zulkifli. (*)













