falalamo.com – Keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda serangan ke Iran selama lima hari memicu kecurigaan besar.
Analis politik internasional mencium adanya “siasat busuk” di balik klaim pembicaraan produktif yang Trump gembar-gemborkan.
Bukannya ingin berdamai, Trump diduga kuat hanya sedang mengulur waktu demi menunggu bala bantuan pasukan militer tambahan tiba di Timur Tengah.
Kolumnis Gedung Putih dari The Hill, Niall Stanage, membongkar kejanggalan di balik tenggat waktu baru yang Trump buat.
Ia mencatat bahwa berakhirnya masa penundaan lima hari tersebut jatuh tepat pada hari Jumat mendatang—hari yang sama dengan jadwal tibanya armada tambahan Marinir AS di kawasan teluk.
“Fakta bahwa waktu dari kedua hal ini sangat berkaitan erat tentu saja menimbulkan kecurigaan besar,” ujar Stanage kepada Al Jazeera, Selasa (24/3/2026).
Stanage menilai klaim “pembicaraan produktif” dari Trump kemungkinan besar hanyalah sebuah gertakan (bluff).
Trump diduga sedang menyiapkan “perubahan arah mendadak” yang lebih agresif begitu kekuatan militernya lengkap di akhir pekan nanti.
Di sisi lain, Stanage tidak menampik bahwa Trump saat ini sedang dalam posisi terjepit secara domestik.
Kenaikan harga BBM yang mencekik warga Amerika mulai merontokkan popularitas sang presiden.
“Ini adalah perang yang tidak populer sejak awal. Penderitaan ekonomi akibat lonjakan harga minyak telah meningkat sangat signifikan bagi rakyat yang sekadar mengisi tangki mobil mereka,” tambah Stanage.
Menurutnya, Trump saat ini sedang mencari “jalan keluar” (exit ramp) secara putus asa.
Trump sadar bahwa ia tidak akan sanggup menahan penderitaan ekonomi dan konsekuensi politik dari kemarahan rakyatnya untuk waktu yang lebih lama lagi. (*)













