Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
ekonomiInternasionalPeristiwa

Cadangan Minyak Amerika Menipis, Trump Kehabisan Cara Redam Harga BBM

×

Cadangan Minyak Amerika Menipis, Trump Kehabisan Cara Redam Harga BBM

Sebarkan artikel ini
Presiden Donald Trump terancam
Presiden AS Donald Trump (foto: AFP)

falalamo.com – Pemerintahan Donald Trump dilaporkan tengah berada dalam posisi sulit.

Di tengah ambisinya melakukan blokade total terhadap Iran, Amerika Serikat (AS) justru disebut mulai kehabisan ‘senjata’ untuk meredam lonjakan harga minyak yang kian menggila.

Dilansir dari Reuters, Selasa (17/3/2026), para analis memperingatkan bahwa Washington kini memiliki pilihan yang sangat terbatas untuk mencegah krisis energi di dalam negerinya sendiri. Senjata utama yang selama ini diandalkan, yakni Cadangan Minyak Strategis (SPR), dilaporkan telah mencapai level terendah dalam beberapa dekade.

Kondisi ini terjadi karena AS telah berkali-kali menguras cadangan minyak darurat mereka untuk menekan inflasi beberapa tahun terakhir.

Akibatnya, saat ketegangan di Selat Hormuz memuncak, AS tidak lagi memiliki “bantalan” yang cukup untuk menyerap gangguan pasokan global.

Baca Juga  Waspada! Penipuan Lewat QR Code Makin Marak, Begini Modusnya

“Gudang senjata kita kosong. Jika kita kehilangan pasokan jutaan barel per hari dari Teluk Persia, melepas cadangan minyak saat ini hanya akan memberikan dampak kecil,” ungkap seorang ekonom energi senior kepada Reuters.

Kondisi semakin terjepit setelah upaya diplomatik Trump menemui jalan buntu.

Negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+, termasuk Arab Saudi, dilaporkan enggan menuruti permintaan AS untuk meningkatkan produksi secara instan guna menutupi hilangnya pasokan dari Iran.

Di sisi lain, sekutu tradisional AS di Eropa dan Asia (Jepang dan Korea Selatan) mulai menunjukkan perlawanan.

Mereka merasa tidak dilibatkan dalam rencana militer Trump dan khawatir ekonomi mereka hancur akibat harga minyak yang diprediksi bisa menembus US$ 150 hingga US$ 200 per barel.

Baca Juga  Israel Klaim Tewaskan Bos Keamanan Nasional Iran Ali Larijani

Lonjakan harga minyak mentah di atas US$ 120 per barel kini mulai terasa di pompa-pompa bensin di seluruh Amerika.

Hal ini menjadi ancaman politik serius bagi Trump di dalam negeri. Kenaikan biaya hidup di tengah operasi militer dapat mengikis dukungan pemilih secara drastis.

Analis dari Goldman Sachs memperingatkan, jika pemerintah AS gagal melakukan intervensi yang efektif, pasar global akan memasuki zona bahaya yang bisa memicu resesi ekonomi dunia.

Kini, Gedung Putih dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah ekstrem, termasuk kemungkinan melarang ekspor minyak mentah AS ke luar negeri demi mengamankan stok dalam negeri—sebuah langkah yang justru berisiko mengacaukan pasar energi internasional lebih jauh. (*)

Baca Juga  Sukses Cetak Petani Mandiri, PT Wanatiara Persada Perluas Program Bareng Polres Halsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *