falalamo.com – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, membawa kabar baik dari meja perundingan maraton antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss.
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (23/6/2026), Ghalibaf mengeklaim bahwa dialog tertutup tersebut berhasil menghasilkan poin-poin kesepakatan krusial demi meredam tensi panas di Timur Tengah.
Ghalibaf menilai misi delegasi kali ini membuahkan hasil yang sangat positif bagi kepentingan nasional Iran.
Ia merinci sejumlah isu sensitif yang sukses menemui titik temu, mulai dari status Selat Hormuz, resolusi konflik Lebanon, pengecualian sanksi minyak, hingga pencairan aset finansial Teheran.
Ghalibaf mengonfirmasi bahwa Iran segera mencairkan dana simpanan mereka senilai USD 6 miliar melalui dua tahap strategis.
Meski Washington tetap mempertahankan sanksi sektor minyak karena kedua negara belum meneken kesepakatan final, Teheran sukses mengantongi izin pengecualian (exemption) khusus untuk menjual komoditas minyak mentah dan mengaktifkan kembali transaksi perbankan internasional.
“Kami tentu membutuhkan pengecualian ini agar kami dapat menjual minyak dan menjalankan aktivitas perbankan kami. Kami telah memperoleh pengecualian ini, dan kedua pihak telah menandatangani perjanjian terkait,” tegas Ghalibaf saat menjelaskan hasil diplomasi ekonomi tersebut.
Aturan Baru Selat Hormuz: Tak Bisa Kembali Seperti Dulu!
Terkait jalur logistik global, Ghalibaf mengirim sinyal keras bahwa pengelolaan Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti situasi sebelum perang pecah.
Pihak Iran dan AS sepakat membangun mekanisme koordinasi baru di selat strategis tersebut guna mencegah potensi salah paham antarmiliter di lapangan.
Kedua negara juga meluncurkan saluran telepon khusus (hotline) serta mendirikan pusat kendali bersama di wilayah tersebut.
Fasilitas modern ini berfungsi memantau setiap pergerakan kapal komersial secara real-time sekaligus merespons cepat jika muncul perselisihan mendadak di jalur urat nadi energi dunia itu.
Sementara itu untuk isu Lebanon, perwakilan Teheran dan Washington sepakat mendirikan sebuah pusat koordinasi khusus langsung di lokasi konflik.
Ghalibaf optimistis bahwa kehadiran pusat kendali ini memegang peran vital untuk memutus rantai peperangan dan mengembalikan kehidupan normal warga sipil.
Pihak Iran juga menuntut pusat koordinasi tersebut bekerja ekstra untuk memastikan militer Israel segera mengosongkan seluruh wilayah pendudukan.
Langkah tegas ini bertujuan mengembalikan kedaulatan nasional Lebanon sepenuhnya dari intervensi luar. (*)













