Ternate, falalamo – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku Utara Irjen Pol Waris Agono secara resmi meminta maaf atas insiden kekerasan terhadap pendemo salah satunya aktivis perempuan dalam demo ricuh di Halmahera Selatan (Halsel).
Permintaan maaf disampaikan saat menerima kunjungan Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Maluku Utara di Mapolda, Rabu (3/9/2025).
“Saya menyampaikan permintaan maaf atas insiden di Halmahera Selatan. Kami akan turunkan tim untuk menyelidiki kasus ini secara menyeluruh,” tegas Waris.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana dialogis ini membahas pelaksanaan aksi unjuk rasa serta aspek pengamanannya, menyusul ricuhnya demo Selasa (2/9) yang mengakibatkan Ketua KOHATI BADKO HMI Malut Aisun Salim mengalami luka fisik dan trauma psikis.
Jenderal bintang dua tersebut menyatakan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan para korban.
Dia juga memerintahkan jajaran kepolisian memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan perempuan yang terlibat dalam aksi unjuk rasa.
“Kita akan terus melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem pengamanan dalam penanganan aksi demonstrasi,” ungkap alumnus Akpol 1994 ini.
Langkah ini diambil setelah sebelumnya Kapolres Halsel AKBP Hendra Gunawan membantah tuduhan pemukulan terhadap aktivis perempuan.
Hendra menyebut luka korban kemungkinan akibat pantulan batu atau bambu bendera saat terjadi dorong-mendorong.
Kapolda menekankan pentingnya peran Polri dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada korban, serta menjamin keselamatan dan perlindungan kaum perempuan yang turut serta dalam aksi.
Pembentukan tim khusus penyelidikan ini merespons tuntutan BADKO HMI Malut yang sebelumnya mendesak pencopotan Kapolres Halsel dan pemrosesan oknum polisi yang diduga terlibat kekerasan.
HMI juga melontarkan tuntutan lebih luas, termasuk reformasi UU Polri, pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta pengusutan dugaan keterlibatan jenderal polisi dalam praktik pertambangan ilegal dan penyelundupan narkoba di Malut.
“Silaturahmi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi serta membuka ruang dialog antara kepolisian dan organisasi mahasiswa di Maluku Utara, demi menjaga situasi yang kondusif di wilayah ini,” pungkas Waris.
Pertemuan ini menandai perubahan sikap signifikan dari pihak kepolisian yang sebelumnya defensif membantah tuduhan kekerasan.
Kini Kapolda mengambil langkah proaktif untuk meredakan ketegangan dengan mengakui kesalahan dan berkomitmen menyelidiki kasus secara transparan.
Sebelumnya, demo yang digelar Aliansi Peduli Indonesia juga menyoroti berbagai kasus dugaan korupsi di Halmahera Selatan, termasuk kasus BPRS Saruma yang diduga merugikan miliaran rupiah dan dana hibah media senilai Rp 1,7 miliar. (*)













