Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
ekonomiHumanioraKabupaten Halmahera Selatan

Dari Penjara ke Kebun: Kisah ‘Petani Miliarder’ yang Ajari Napi Raup Peluang Puluhan Miliar

×

Dari Penjara ke Kebun: Kisah ‘Petani Miliarder’ yang Ajari Napi Raup Peluang Puluhan Miliar

Sebarkan artikel ini
Prof pertanian Yusran
Prof Yusran, Miliarder Pertanian yang memberi edukasi naik kelas melalui bertani (foto: Moch/falalamo)

 Program pelatihan pertanian organik di Lapas Labuha buka mata para tahanan tentang peluang pasar milyaran rupiah yang selama ini luput dari tangan petani lokal

LABUHA, falalamo – Di balik jeruji Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Labuha, Halmahera Selatan, puluhan warga binaan duduk dengan penuh perhatian.

Mereka mendengarkan sosok yang dikenal dulunya adalah eks sespri Wagub Malut Ali Yasin, kini berubah menjadi “petani miliarder” dengan penghasilan Rp 1,3 miliar per bulan.

Yusran, nama pria itu, bukan datang untuk berkhotbah tentang moral. Ia datang membawa cerita sukses dan data mengejutkan: ada pasar senilai Rp 54 miliar per bulan yang menanti di depan mata, tapi luput dari tangan petani lokal Halmahera Selatan Maluku Utara.

“Kalian tahu berapa banyak orang yang makan tiga kali sehari di perusahaan-perusahaan tambang Obi? 30.000 orang. Kalikan dengan Rp 20.000 per sekali makan. Itu Rp 1,8 miliar per hari, Rp 54 miliar per bulan,” ujar Yusran dalam pelatihan pertanian organik di Lapas Labuha, Jumat (28/11/2025).

Baca Juga  Geger! Warga Kawasi Demo Tolak film Dokumenter, Sebut Propaganda Harita Nickel 

Program pelatihan ini lahir dari kolaborasi antara Lapas Labuha, PT Rimba Kurnia Alam (RKA), dan UMKM Saruma Lestari.

Kepala Lapas, Jumadi, menegaskan bahwa warga binaannya bukanlah penjahat.

“Mereka hanya tersesat. Di sini kami hanya mengurung fisik mereka, tapi inovasi, kreasi, dan cara berpikir mereka kami bebaskan,” kata Jumadi.

Filosofi itulah yang membuat Lapas Labuha membuka pintu bagi program pengembangan diri yang tidak biasa: pertanian organik berbasis pasar.

M. Husni Abusama, Koordinator CSR PT RKA, juga menyoroti ironi yang terjadi di Halmahera Selatan. Daerah dengan tanah subur dan luas justru gagal memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

“Korporasi-korporasi besar di Obi seperti PT RKA, Harita Grup, dan PT Wanatiara Persada membutuhkan pasokan pangan setiap hari. Tapi karena pasar lokal tidak mampu, mereka mendatangkan dari luar,” ungkap Husni.

Lebih parah lagi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah yang melayani 4.000-5.000 siswa per dapur juga kesulitan mendapat pasokan lokal.

Baca Juga  Kadis DLH Halsel Akui Keterbatasan Armada Penyebab Sampah Menumpuk di Labuha

“Ini peluang emas yang terlewatkan,” kata Husni.

Yusran adalah bukti hidup bahwa pertanian bisa menghasilkan miliaran. Mantan sespri di kantor Gubernur Maluku Utara ini memilih meninggalkan jabatan politiknya untuk “memegang cangkul.”

Keputusan itu membuahkan hasil fantastis. Pada 2019, penghasilannya mencapai Rp 1,3 miliar per bulan.

Kini ia memiliki aset berupa mobil dan kapal, semua dari pertanian.

Yang lebih mencengangkan, Yusran tidak hanya sukses secara ekonomi. Ia juga menerima penghargaan dari Kementerian SDM sebagai program pertanian terinovatif di Indonesia.

Keahlian Yusran terletak pada rekayasa cuaca dan inovasi produk. Ia berhasil menanam tanaman dataran tinggi seperti wortel putih dan lobak putih di daerah pesisir panas seperti Obi dan Bacan—sesuatu yang dianggap mustahil oleh para petani konvensional.

Lebih dari itu, ia menciptakan produk-produk bernilai tinggi dari bahan yang tidak lazim:

– Kangkung diekstrak menjadi madu

– Batang buah naga menjadi madu klorofil

“Kunci pertanian bukan hanya tanam dan panen. Kuncinya adalah pasar. Jika kita paham pasar, pasar akan datang dengan sendirinya,” tegas Yusran.

Baca Juga  Selidiki Kasus TPPO Myanmar, Polda Malut Periksa Pelapor dan Saksi di Halsel

Yusran kini sedang mengembangkan fasilitas pertanian inovatif seluas 10.000 meter persegi, yang disebutnya sebagai satu-satunya di Maluku Utara dan terbesar di Indonesia Timur.

Fasilitas ini akan menjadi pusat pengembangan teknologi pertanian yang nantinya bisa ditiru oleh petani lokal, termasuk para warga binaan Lapas Labuha yang kini tengah mengikuti pelatihannya.

Bagi para warga binaan, pelatihan ini bukan sekadar mengisi waktu. Ini adalah jendela harapan untuk memulai hidup baru setelah bebas nanti.

“Saya berharap teman-teman WBP mampu belajar dan mendapat ilmu yang bisa dibawa kembali ke tengah keluarga masing-masing. Mereka bisa membawa warna baru,” kata Jumadi.

Dengan pasar senilai Rp 54 miliar per bulan yang masih terbuka lebar, pertanyaannya bukan lagi apakah ada peluang, tapi apakah mereka siap menangkapnya.

Dan di Lapas Labuha, jawaban itu mulai terbentuk—satu tanaman, satu inovasi, satu harapan pada satu waktu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *