Jakarta, falalamo.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan Israel dan Amerika Serikat.
MUI menilai agresi militer tersebut telah melukai nurani kemanusiaan, terlebih terjadi di tengah bulan suci Ramadan.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. MUI menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, akibat eskalasi serangan Israel-Amerika pada penghujung Februari kemarin,” tulis pernyataan resmi MUI, Senin (2/3/2026).
MUI menyayangkan agresi militer tersebut terjadi saat umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa.
Menurut MUI, tindakan tersebut bukan sekadar konflik biasa, melainkan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional sebagaimana diatur dalam Deklarasi PBB.
Terkait serangan balasan Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, MUI memandang langkah tersebut sebagai bentuk pembelaan diri yang bisa dibenarkan secara hukum internasional.
“Dalam kacamata hukum, respons balik yang dilakukan Iran terhadap pangkalan militer merupakan bentuk pembelaan diri yang sah dan dilindungi,” sebut MUI.
MUI juga menduga ada upaya sistematis di balik eskalasi ini untuk melemahkan pihak-pihak yang selama ini teguh mendukung kemerdekaan Palestina.
Sebagai bangsa yang menjunjung amanat UUD 1945, MUI menegaskan bahwa kekerasan tidak boleh menggantikan diplomasi.
Lebih lanjut, MUI mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah diplomatik yang lebih berani.
MUI meminta pemerintah meninjau ulang efektivitas sistem Balance of Power atau Balance of Peace di kancah global.
“MUI mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah berani dengan meninjau ulang keanggotaan dalam sistem Balance of Power atau Balance of Peace yang selama ini dirasa kurang efektif dalam menghadirkan keadilan sejati,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, MUI mengajak umat Islam di Indonesia untuk merapatkan barisan secara spiritual dengan menggelar doa Qunut Nazilah.
MUI juga mendesak PBB dan OKI agar segera turun tangan menghentikan pertumpahan darah demi kedamaian umat manusia. (*)













