Ternate, falalamo – Laporan terbaru SIDEGO Kie Raha 2025 menunjukkan sektor pertanian masih menjadi penyangga utama tenaga kerja di Maluku Utara, meski produktivitas sektor ini tercatat melemah.
Pertanian menampung 162,58 ribu pekerja atau 24,14 persen dari total angkatan kerja, menjadikannya salah satu sektor dengan serapan tenaga kerja terbesar di wilayah tersebut.
Dalam laporan itu disebutkan pertumbuhan tenaga kerja pertanian mengalami kontraksi cukup dalam, yakni minus 6,90 persen.
Kontraksi ini menunjukkan perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor lain, seiring percepatan pembangunan industri pengolahan mineral di Halmahera.
SIDEGO menilai kondisi ini memperlihatkan dua hal penting: pertanian masih menjadi tumpuan pekerja, namun tidak lagi mampu memberikan produktivitas optimal bagi ekonomi daerah.
Sektor ini disebut mengalami tekanan dari penurunan produktivitas, minimnya modernisasi, serta pergeseran minat generasi muda menuju sektor non-pertanian.
Meski porsi tenaga kerja pertanian masih besar, laporan itu mencatat transformasi struktural ekonomi Maluku Utara bergerak cepat ke industri pengolahan nikel.
Namun, perubahan tersebut belum sepenuhnya terserap oleh tenaga kerja lokal, sehingga pertanian tetap menjadi rumah bagi pekerja yang belum mampu beralih ke sektor yang lebih modern.
SIDEGO menyebut ketergantungan besar pada pertanian dan tingginya perpindahan tenaga kerja ke sektor informal dapat menimbulkan risiko meningkatnya setengah penganggur jika transformasi ekonomi tidak diikuti peningkatan kapasitas tenaga kerja di daerah. (*)













