Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
HumanioraKota TernateMaluku Utara

Menelusuri Jejak Tobona: 775 Tahun Perjalanan Ternate dan “Selembar Catatan” yang Tak Boleh Hilang

×

Menelusuri Jejak Tobona: 775 Tahun Perjalanan Ternate dan “Selembar Catatan” yang Tak Boleh Hilang

Sebarkan artikel ini
Foto udara Pulau Ternate Gunung Gamalama Maluku Utara sejarah 775 tahun Kerajaan Ternate.
Berawal dari lereng Gunung Gamalama, peradaban Ternate tumbuh dari empat kampung awal—Tobona, Heku, Tubo, dan Tabanga—sebelum akhirnya berkembang menjadi kesultanan besar yang disegani dunia. (Foto: geografi indonesia/IG)

TERNATE, falalamo.com – Jauh sebelum benteng-benteng kolonial berdiri kokoh di pesisir pantai, sejarah Moloku (Maluku Utara) bermula dari dataran tinggi.

Di lereng Gunung Gamalama, tersimpan sebuah narasi tentang empat kampung: Tobona, Heku, Tubo, dan Tabanga.

Hari ini, saat Ternate merayakan hari jadinya yang ke-775, ingatan kita ditarik kembali ke masa “Tara No Ate”—sebuah fase di mana peradaban di negeri Gapi mulai berpijak.

Persatuan Empat Momole

Sejarah mencatat bahwa Ternate pada mulanya adalah federasi empat kampung yang dipimpin oleh para Momole (pemimpin klan). Mereka adalah:

  •  Momole Tomaito di Tobona
  •  Momole Marsaoly di Heku
  •  Momole Tomagola di Tubo
  •  Momole Tomaidi di Tabanga
Baca Juga  Pengaduan Soal Dana Desa di Halsel kian Marak, Transparansi Keuangan Dipertanyakan

Keempat sosok inilah yang menjaga marwah adat dan kedaulatan Negeri Gapi. Namun, babak baru yang lebih terang dimulai ketika seorang ulama asal Persia, Syaich Jafar Noh, menginjakkan kaki di tanah ini.

Pertemuan Adat dan Iman

Kehadiran Jafar Noh bukan sekadar persinggahan. Ia membawa “cahaya” baru yang kemudian menyatu dengan struktur sosial masyarakat setempat.

Pernikahannya dengan Boki Guna, putri dari Momole Tobona, menjadi simbol sakral bersatunya nilai adat dan keimanan.

Dari rahim sejarah inilah lahir Cico (kolano Bab Mashur Malamo), putra bungsu Jafar Noh. Berkat kebijaksanaan dan garis keturunannya, persekutuan empat Momole sepakat mengangkat Cico sebagai Raja Ternate yang pertama.

Pemandangan pelabuhan Ternate latar Gunung Gamalama pusat perdagangan rempah Maluku Utara.
Pelabuhan Ternate saat ini. Perpindahan pusat kekuasaan dari Tobona di ketinggian menuju Sampalo di pesisir pantai menjadi simbol keterbukaan Ternate terhadap perdagangan dan syiar Islam yang dibawa Syaich Jafar Noh (dok. Explore Ternate/IG)

“Tara No Ate”: Dari Gunung ke Pesisir

Baca Juga  APBD Kota Ternate 2026 Disetujui Rp940 Miliar, Ini Rinciannya

Peristiwa perpindahan pusat kekuasaan dari Tobona ke Sampalo menandai lahirnya istilah Tara No Ate (Turun dan Merangkul).

Momen ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan deklarasi berdirinya sebuah kerajaan berdaulat yang mampu bertahan melintasi zaman.

Kini, di usia yang ke-775 tahun, seruan “Jangan lupakan Tobona” menjadi pengingat penting.

Tobona bukan sekadar nama kampung, melainkan “selembar catatan” identitas yang menjadi akar dari besarnya pohon Kesultanan Ternate hari ini.

Tanpa Tobona, mungkin tak ada Ternate yang kita kenal sekarang.

Dirgahayu Tara No Ate ke-775. Menolak lupa pada akar, merawat cahaya yang pernah dibawa Jafar Noh. (*)

Helmi Husni Tomaito

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *