TERNATE, falalamo.com – Jauh sebelum benteng-benteng kolonial berdiri kokoh di pesisir pantai, sejarah Moloku (Maluku Utara) bermula dari dataran tinggi.
Di lereng Gunung Gamalama, tersimpan sebuah narasi tentang empat kampung: Tobona, Heku, Tubo, dan Tabanga.
Hari ini, saat Ternate merayakan hari jadinya yang ke-775, ingatan kita ditarik kembali ke masa “Tara No Ate”—sebuah fase di mana peradaban di negeri Gapi mulai berpijak.
Persatuan Empat Momole
Sejarah mencatat bahwa Ternate pada mulanya adalah federasi empat kampung yang dipimpin oleh para Momole (pemimpin klan). Mereka adalah:
- Momole Tomaito di Tobona
- Momole Marsaoly di Heku
- Momole Tomagola di Tubo
- Momole Tomaidi di Tabanga
Keempat sosok inilah yang menjaga marwah adat dan kedaulatan Negeri Gapi. Namun, babak baru yang lebih terang dimulai ketika seorang ulama asal Persia, Syaich Jafar Noh, menginjakkan kaki di tanah ini.
Pertemuan Adat dan Iman
Kehadiran Jafar Noh bukan sekadar persinggahan. Ia membawa “cahaya” baru yang kemudian menyatu dengan struktur sosial masyarakat setempat.
Pernikahannya dengan Boki Guna, putri dari Momole Tobona, menjadi simbol sakral bersatunya nilai adat dan keimanan.
Dari rahim sejarah inilah lahir Cico (kolano Bab Mashur Malamo), putra bungsu Jafar Noh. Berkat kebijaksanaan dan garis keturunannya, persekutuan empat Momole sepakat mengangkat Cico sebagai Raja Ternate yang pertama.

“Tara No Ate”: Dari Gunung ke Pesisir
Peristiwa perpindahan pusat kekuasaan dari Tobona ke Sampalo menandai lahirnya istilah Tara No Ate (Turun dan Merangkul).
Momen ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan deklarasi berdirinya sebuah kerajaan berdaulat yang mampu bertahan melintasi zaman.
Kini, di usia yang ke-775 tahun, seruan “Jangan lupakan Tobona” menjadi pengingat penting.
Tobona bukan sekadar nama kampung, melainkan “selembar catatan” identitas yang menjadi akar dari besarnya pohon Kesultanan Ternate hari ini.
Tanpa Tobona, mungkin tak ada Ternate yang kita kenal sekarang.
Dirgahayu Tara No Ate ke-775. Menolak lupa pada akar, merawat cahaya yang pernah dibawa Jafar Noh. (*)
Helmi Husni Tomaito













