Malam demi malam melaju dengan lamban, mengawasi nafas tersengal dibalik kepulan
menyusuri hari yang bengis, memulainya dengan lirih
menyayat hidup yang pasrah, menyambutnya dengan cemas
menjual waktu yang indah, menawarinya dengan ringkih
ditiap detik Dia membunuh diri, demi lapar yang tak pernah usai
ditiap jam menggantungkan doa; semoga bunuh dirinya tak akan benar mati
makan baginya adalah pengalaman terindah sepanjang lapar,
mimpi yang tak pernah sirnah
perutnya adalah ruang istimewa yang terus dirawat,
tanpanya: cinta pun hanya kata-kata bisu
lalu, mengapa kau bergumam atas nama orang terkasih
membenarkan lelah diujung pisau yang kau genggam diatas nadimu?
ya, aku memajang mereka (orang terkasih) diatas tempat tidur lelah ku,
meski kasur yang ku pakai terbuat dari pecahan kaca melukai tubuh ku
malam masih berlanjut, penglihatan masih bergetar tak percaya
disaat orang-orang tidur tanpa prasangka atas hari esok,
tangan-tangan belia ini masih bercucuran air mata
menjamu keterasingan yang membunuh
bukankah kita memiliki sengaja dalam tindakan untuk memilih?
tidak, aku tak punya itu yang bisa ku gadaikan membeli tawa untuk wajah anak ku
untuk sekadar membasuh dahaga yang mengering saat siang memudar
disaat orang-orang gemar memandu kekayaan diatas podium janji-janji;
kaki yang mulai lemah itu berujung lumpuh ingatannya
bagai lukisan yang siap dirusak
dicaci karna tak layak dipajang di museum kebudayaan
ku akhiri percakapan; kau percaya pada Tuhan?
ku panjatkan doa pada Nya sepanjang sadar
berharap aku mati diatas peluk anak ku yang terisi perutnya,
itu doa setia ku, bersemayam dikala fajar memanggil pulang
**(Penyair: Kalinggo) **













