falalamo.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan membatalkan ancamannya untuk menghancurkan infrastruktur energi Iran.
Setelah sebelumnya sesumbar akan menyerang dalam waktu 48 jam, Trump kini justru mengumumkan penundaan serangan selama lima hari ke depan.
Keputusan ini diambil setelah Teheran mengeluarkan ancaman balasan yang tidak kalah mengerikan, yakni serangan langsung ke pembangkit listrik di wilayah Teluk yang menjadi urat nadi sekutu AS.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebut bahwa Washington tengah menjajaki jalur diplomasi.
Ia mengklaim telah menggelar pembicaraan yang disebutnya “produktif” dengan pihak Iran guna mencari solusi permanen atas krisis di Timur Tengah.
“AS akan menunda segala serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama periode lima hari,” ujar Trump, Senin (23/3/2026).
Langkah ini menandai perubahan drastis dari sikap agresif Trump sebelumnya. Ia kini menyebut adanya upaya menuju “penyelesaian lengkap dan total” atas konflik yang kian memanas tersebut.
Padahal, pada 21 Maret lalu, Trump sempat mengeluarkan ultimatum keras.
Ia memberikan waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini “digembok” oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Saat itu, Washington mengancam akan “menghancurkan” berbagai pembangkit listrik di seluruh penjuru Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Namun, hingga batas waktu terlampaui, Selat Hormuz tetap tertutup dan ancaman serangan udara AS justru menguap menjadi penundaan 5 hari.
Analis menilai penundaan ini merupakan sinyal bahwa AS mulai memperhitungkan risiko besar jika infrastruktur energi di wilayah Teluk benar-benar dihantam balik oleh rudal-rudal Iran.
Mundurnya jadwal serangan ini dianggap sebagai kemenangan diplomatik bagi Teheran yang tetap bergeming meski diancam secara militer. (*)













