falalamo.com – Sejumlah sekutu dekat Amerika Serikat (AS) di Eropa dan Asia mulai melancarkan aksi protes terhadap rencana pemerintahan Donald Trump yang ingin memperketat blokade maritim di Selat Hormuz.
Langkah Trump tersebut dinilai sangat berisiko memicu guncangan ekonomi global yang tak terkendali.
Dilansir dari Yahoo Finance/Bloomberg, Senin (16/3/2026), para pemimpin dari Uni Eropa, Jepang, hingga Korea Selatan menyatakan kekhawatiran serius.
Upaya militer AS dan Israel untuk menyetop total ekspor minyak Iran dianggap bakal membuat harga minyak dunia melambung tinggi hingga melampaui batas kemampuan pasar.
Ketegangan ini memuncak setelah muncul laporan intelijen yang menyebut pemerintah Trump mempertimbangkan aksi militer lebih agresif untuk mencegah kapal tanker Iran keluar dari Teluk Persia.
Padahal, jalur tersebut merupakan urat nadi energi dunia di mana seperlima konsumsi minyak global melintas setiap harinya.
“Kami mendesak pemerintahan Trump mempertimbangkan konsekuensi ekonomi yang luas. Blokade total bukan hanya masalah keamanan regional, tapi ancaman langsung bagi ketahanan energi global,” ujar seorang pejabat senior Uni Eropa.
Sikap keras kepala Trump memicu keretakan di internal koalisi Barat. Negara-negara sekutu merasa kepentingan ekonomi dan nasib rakyat mereka dikorbankan demi agenda militer sepihak AS-Israel.
Saat ini, harga minyak mentah Brent sudah melonjak di atas US$ 120 per barel sejak ketegangan pecah Februari lalu.
Para analis memperingatkan, jika blokade benar-benar terjadi dan Iran membalas dengan menutup selat menggunakan ranjau atau drone, harga minyak bisa menembus US$ 150 hingga US$ 200 per barel.
Meski ditekan sekutu, Gedung Putih tampaknya belum bergeming. Pemerintahan Trump justru menuduh negara-negara sekutu bersikap “lemah” terhadap Teheran.
Trump bersikeras bahwa kampanye ‘tekanan maksimum‘ tetap diperlukan untuk melumpuhkan militer Iran.
Bagi Trump, keamanan nasional AS dan penghancuran ancaman Iran adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar, meski harus menghadapi fluktuasi harga pasar jangka pendek. (*)













