Labuha, falalamo.com – BMKG mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Halmahera Selatan bakal meningkat seiring El Nino 2026 yang terus menguat menuju level sangat kuat.
Cuaca kering berkepanjangan memicu kekhawatiran munculnya titik api di sejumlah wilayah selama Agustus hingga Oktober mendatang.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Oesman Sadik, Irsyad Humaidi, menyampaikan peringatan ini dalam Rapat Koordinasi Penanganan dan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Halmahera Selatan, Kamis (30/7/2026).
Ia memaparkan data terbaru yang menunjukkan intensitas El Nino terus merangkak naik sejak awal 2026.
“Nilai anomali suhu muka laut di region Nino 3.4 pada Mei-Juni-Juli 2026 mencapai +1,55, menunjukkan El Nino dengan intensitas kuat. BMKG memprediksi El Nino 2026 akan mencapai level sangat kuat,” ujar Irsyad.
BMKG mencatat hari tanpa hujan (HTH) di Maluku Utara per dasarian II Juli 2026 sudah menembus kategori menengah, yakni 11 sampai 20 hari berturut-turut tanpa hujan.
Kondisi ini membuat lahan dan vegetasi kering mengering lebih cepat sehingga rentan tersulut api.
Tiga Zona Musim Sudah Masuk Kemarau
Petugas BMKG memaparkan tiga dari empat zona musim di Halmahera Selatan telah memasuki musim kemarau lebih awal dari jadwal normalnya.
Pulau Bacan dan Pulau Obi memasuki kemarau sejak dasarian II Juli 2026, sementara wilayah Gane sudah lebih dulu masuk kemarau pada dasarian I Juli 2026.
BMKG memprediksi curah hujan sepanjang Agustus hingga Oktober 2026 akan didominasi kategori rendah di hampir seluruh Maluku Utara.
Wilayah Pulau Bacan, Pulau Kayoa, Pulau Makian, dan Gane bahkan diprediksi mengalami sifat hujan di bawah normal alias lebih kering dari rata-rata klimatologisnya.
“Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Agustus untuk Pulau Obi, dan Oktober untuk Pulau Bacan, Pulau Kayoa, Pulau Makian, serta Gane,” kata Irsyad.
BMKG Minta Petugas Perketat Patroli dan Pantau Titik Panas
Menyikapi ancaman ini, BMKG mendesak instansi terkait segera meningkatkan kewaspadaan melalui patroli terpadu di kawasan hutan dan lahan rawan kebakaran.
BMKG juga mendorong petugas memanfaatkan sistem peringatan dini titik panas atau hotspot guna mendeteksi kemunculan api sejak dini.
Selain patroli, BMKG meminta pemerintah daerah menggencarkan sosialisasi pencegahan pembakaran lahan kepada masyarakat, khususnya petani yang biasa membuka lahan dengan cara membakar.
Langkah ini dinilai krusial untuk menekan risiko kabut asap yang dapat mengganggu kualitas udara dan kesehatan warga.
BMKG turut mengimbau warga menjaga kualitas udara di lingkungan masing-masing selama musim kemarau berlangsung.
Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia diminta mendapat perhatian khusus, termasuk penyediaan masker dan pemantauan kualitas udara secara intensif di wilayah yang berpotensi terdampak asap.
Dengan tren El Nino yang terus menguat, BMKG menegaskan kesiapsiagaan dini menjadi kunci utama mencegah karhutla meluas di Halmahera Selatan sepanjang musim kemarau 2026. (*)











