Labuha, falalamo.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino pada 2026 bakal mencapai level sangat kuat pada Agustus hingga Oktober mendatang.
Kondisi ini membuat sebagian besar wilayah Halmahera Selatan, Maluku Utara, terancam mengalami musim kemarau yang lebih kering dari rata-rata normalnya.
Prediksi tersebut disampaikan Prakirawan Stasiun Meteorologi Oesman Sadik Irsyad Humaidi dalam Rapat Koordinasi Penanganan dan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Halmahera Selatan, Kamis (30/7/2026).
“Nilai anomali suhu muka laut di region Nino 3.4 pada periode Mei-Juni-Juli 2026 sebesar +1,55, yang menunjukkan adanya El Nino dengan intensitas kuat. BMKG memprediksi El Nino 2026 akan mencapai level sangat kuat,” kata Irsyad melalui keterangan tertulisnya.
Berdasarkan data terbaru per dasarian II Juli 2026, anomali suhu muka laut di kawasan Nino 3.4 bahkan sudah menyentuh angka +2,26.
Sementara itu, indeks Dipole Mode atau Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia masih berada pada fase netral dengan nilai 0,197, namun diprediksi bergeser ke fase IOD positif mulai September hingga Desember 2026 – kondisi yang berpotensi memperkuat efek kering El Nino di wilayah timur Indonesia, termasuk Maluku Utara.
Curah Hujan Diprediksi Rendah
BMKG mencatat curah hujan periode April-Juni 2026 di Maluku Utara umumnya berada pada kategori menengah hingga rendah.
Kondisi ini diperkirakan berlanjut lebih kering pada Agustus-Oktober 2026, dengan curah hujan didominasi kategori rendah di hampir seluruh wilayah.
Data hari tanpa hujan (HTH) per dasarian II Juli 2026 juga menunjukkan wilayah Maluku Utara secara umum sudah berada pada kategori menengah, yakni 11-20 hari berturut-turut tanpa hujan.
Musim Kemarau Masuk Bertahap, Datang Lebih Awal
Menurut prediksi BMKG, awal musim kemarau 2026 di Halmahera Selatan masuk secara bertahap dalam tiga gelombang.
Wilayah Gane menjadi yang pertama memasuki kemarau pada dasarian I Juli 2026, disusul Pulau Bacan dan Pulau Obi pada dasarian II Juli 2026, dan terakhir Pulau Makian, Pulau Kayoa, serta sebagian Gane Timur pada dasarian I Agustus 2026.
Dibandingkan dengan kondisi normalnya periode 1991-2020, tiga dari empat Zona Musim (ZOM) di Halmahera Selatan tercatat memasuki kemarau lebih awal atau maju, yaitu Pulau Bacan, Pulau Obi, dan sebagian besar Gane. Hanya wilayah Pulau Makian, Pulau Kayoa, dan sebagian Gane Timur yang diprediksi masuk kemarau sesuai jadwal normalnya.
Soal sifat musimnya, BMKG memprediksi Pulau Bacan, Pulau Kayoa, Pulau Makian, dan Gane bakal mengalami kemarau dengan kategori bawah normal alias lebih kering dari rerata klimatologis.
Hanya Pulau Obi yang diprediksi mengalami sifat hujan normal.
“Puncak musim kemarau 2026 di Halmahera Selatan diprediksi terjadi pada Agustus 2026 untuk Pulau Obi, dan Oktober 2026 untuk Pulau Bacan, Pulau Kayoa, Pulau Makian, dan Gane,” tulis BMKG dalam paparannya.
BMKG turut memperingatkan potensi gelombang tinggi di perairan Maluku Utara selama periode kemarau ini.
Gelombang setinggi 1,25 meter atau lebih diprediksi masih akan terjadi di selatan perairan Maluku Utara, sementara gelombang di atas 1,5 meter berpotensi terjadi pada Agustus di wilayah selatan dan Oktober di wilayah utara perairan.
BMKG Minta Warga Waspada Karhutla
Menyikapi ancaman kemarau panjang ini, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi antisipasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
Di sektor pertanian, masyarakat diminta menyesuaikan kalender tanam berbasis prakiraan musim, menggunakan varietas tahan kekeringan, serta mengoptimalkan embung dan waduk untuk irigasi hemat air.
Di sektor kehutanan dan lingkungan, BMKG mendorong peningkatan patroli terpadu, sosialisasi pencegahan pembakaran lahan, dan pemanfaatan sistem peringatan dini titik panas (hotspot) guna mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap.
Sementara untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, BMKG merekomendasikan pemantauan kualitas udara secara intensif, penyediaan air bersih darurat, hingga distribusi masker dan vitamin selama musim kemarau berlangsung.
Di sisi lain, BMKG juga menyoroti potensi keuntungan yang bisa dimanfaatkan selama kemarau, di antaranya bagi petambak garam yang dapat memperoleh musim panen lebih panjang dan produktif,
Petani hortikultura yang bisa mendapat kualitas buah dan sayur lebih baik dengan irigasi hemat air, hingga nelayan yang berpotensi diuntungkan fenomena upwelling atau naiknya air laut dingin kaya nutrisi yang menarik migrasi ikan ke permukaan. (*)











