Labuha, falalamo – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Labuha menggandeng PT Rimba Kurnia Alam (RKA) untuk memberikan pelatihan pertanian organik kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Program ini ditujukan untuk membekali WBP dengan keterampilan pertanian guna mendukung ketahanan pangan lokal sekaligus membuka peluang usaha setelah mereka bebas.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (28/11/2025) pagi berlokasi di gedung pertemuan Lapas Labuha ini merupakan kolaborasi strategis antara Lapas Labuha, PT RKA melalui program CSR-nya, dan UMKM Saruma Lestari.
Kepala Lapas Kelas III Labuha, Jumadi, A. Md. IP, SH, MH menyampaikan apresiasi atas kehadiran Koordinator CSR PT RKA, M. Husni Abusama, Ketua Kelompok Tani binaan PT Wanatiara Persada, Yusran. UMKM Saruma Lestari.
“Saya berharap teman-teman WBP mampu belajar dan mendapat ilmu yang bisa dibawa kembali ke tengah keluarga masing-masing,” ujarnya.
Jumadi menegaskan bahwa para WBP bukanlah penjahat, melainkan individu yang “hanya tersesat” dan belum terlambat untuk bertobat.
“Di Lapas ini, mereka hanya terpenjarakan secara fisik, tetapi inovasi, kreasi, dan cara berpikirnya tidak pernah kami kurung,” tegasnya.
Menurutnya, program pelatihan seperti ini menjadi bentuk pembebasan kreativitas WBP agar mereka bisa membawa warna baru bagi keluarga setelah bebas nanti.
Koordinator CSR PT RKA, M. Husni Abusama, dalam sambutannya menyoroti masalah ketahanan pangan di Halmahera Selatan yang belum mampu memenuhi kebutuhan korporasi.
Ia berharap pelatihan ini berkelanjutan dan selaras dengan program Ketahanan Pangan Pemerintah Pusat serta visi-misi Bupati Halsel di bidang Agro-Maritim.
“Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi dari lahan kita yang subur dan luas, bahan baku akan didatangkan dari luar. Ini sangat merugikan,” tegas Husni.
Husni menyebutkan dua peluang pasar besar yang bisa digarap: program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melayani 4.000-5.000 siswa per dapur, dan kebutuhan korporasi seperti PT RKA, Harita Grup, dan PT Wanatiara Persada di Pulau Obi.
Sementara itu, Yusran, berlatar belakang eks sespri Wagub Maluku Utara Ali Yasin yang kini sukses sebagai supplier pertanian, membeberkan potensi pasar yang menggiurkan.
Ia menghitung kebutuhan pangan untuk sekitar 30.000 karyawan perusahaan industri di Obi.
“Kebutuhan makan tiga kali sehari dengan biaya Rp 20.000 per sekali makan. Total pengeluaran harian mencapai Rp 1,8 miliar, atau Rp 54 miliar per bulan,” papar Yusran.
Nilai pasar Rp 54 miliar per bulan ini, kata Yusran, masih dipasok dari luar daerah.
“Ini belum menghitung kebutuhan 254.000 jiwa penduduk Halmahera Selatan,” tambahnya.
Dihadapan WBP, Yusran mengaku meninggalkan jabatan politik demi terjun ke pertanian.
Keputusan itu membuahkan hasil fantastis dengan pendapatan Rp 1,3 miliar per bulan pada tahun 2019.
Kini ia memiliki aset berupa mobil dan kapal, semua dari sektor pertanian.
Yusran, yang telah mengharumkan nama perusahaan PT Wanatiara Persada menerima penghargaan Subroto 2023 dari Kementerian ESDM sebagai program terinovatif ini akan memimpin pelatihan teknis.
Inovasinya meliputi rekayasa cuaca yang berhasil menanam tanaman dataran tinggi seperti wortel putih dan lobak putih di daerah pesisir panas.
Ia juga menciptakan produk bernilai tinggi dari bahan tak biasa, seperti kangkung menjadi madu dan batang buah naga menjadi madu klorofil.
Sebagai informasi, Yusran kini tengah mengembangkan fasilitas industri pertanian inovatif seluas 10.000 meter persegi yang disebutnya sebagai satu-satunya di Maluku Utara dan terbesar di Indonesia Timur.
“Kunci pertanian bukan hanya tanam dan panen. Kuncinya adalah pasar. Jika kita paham pasar, pasar akan datang dengan sendirinya,” pungkas Yusran.
Program pelatihan ini diharapkan dapat memberikan keterampilan baru bagi WBP untuk memulai usaha pertanian setelah bebas nanti. (*)














