InternasionalPeristiwa

Iran Resmi Tunjuk Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru

×

Iran Resmi Tunjuk Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru

Sebarkan artikel ini
Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Agung Iran yang gugur, Ayatollah Ali Khamenei, saat menghadiri demonstrasi untuk memperingati Hari Yerusalem di Teheran (Dok: Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images)

Majelis Ahli Iran yang beranggotakan 88 ulama mencapai konsensus bulat. Mojtaba Khamenei kini memimpin Republik Islam di tengah krisis terbesar dalam sejarah 47 tahun Iran.

falalamo.com – Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru pada Minggu (8/3/2026), menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari lalu.

Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Ahli — lembaga beranggotakan 88 ulama yang secara konstitusional berwenang memilih Pemimpin Tertinggi Iran.

Sebelum nama Mojtaba diumumkan, salah seorang anggota majelis menyatakan konsensus telah tercapai dengan mengucapkan “Jalan Imam Khomeini dan jalan Imam Khamenei sang martir telah dipilih. Nama Khamenei akan terus berlanjut.”

Mojtaba Khamenei kini ditugaskan memimpin Republik Islam melalui krisis terbesar dalam sejarah 47 tahunnya — sebuah perang besar-besaran yang melibatkan kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel secara langsung, dan yang kini telah memasuki minggu keduanya.

Baca Juga  3.600 Kapal Terkatung-katung di Selat Hormuz, Iran Patok Tarif Melintas Rp 32 Miliar

Tidak Pernah Dipilih Publik, tapi Sudah Lama Berkuasa dari Balik Layar

Berbeda dari pemimpin-pemimpin Iran sebelumnya, Mojtaba Khamenei tidak pernah sekalipun mencalonkan diri dalam jabatan publik maupun tunduk pada proses pemungutan suara rakyat.

Namun selama beberapa dekade, ia telah menjadi salah satu figur paling berpengaruh di lingkaran dalam kekuasaan ayahnya, dengan membangun hubungan yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dalam beberapa tahun terakhir, nama Mojtaba semakin sering disebut sebagai calon pengganti teratas ayahnya.

Terpilihnya ia kini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa faksi-faksi garis keras dalam tubuh pemerintahan Iran tetap menggenggam kekuasaan — dan bahwa pemerintah tidak memiliki keinginan untuk maju ke meja perundingan dalam waktu dekat.

Baca Juga  Pemimpin Tertinggi Iran Diklaim Tewas, Teheran Bantah: Khamenei dalam Keadaan Sehat

Pemimpin Konfrontatif, Bukan Moderat

Koresponden Al Jazeera, Ali Hashem, yang meliput langsung dari kawasan, menggambarkan sosok Mojtaba sebagai “penjaga gerbang ayahnya.”

“Ia mengadopsi posisi-posisi ayahnya berkenaan dengan Amerika Serikat, berkenaan dengan Israel. Jadi kita memperkirakan seorang pemimpin yang konfrontatif. Kita tidak mengharapkan moderasi apapun,” kata Hashem.

Namun Hashem juga membuka kemungkinan lain dalam jangka panjang.

“Jika perang ini berakhir dan ia masih hidup serta mampu terus menjalankan negara, akan ada potensi besar untuk menemukan jalur-jalur baru bagi Iran,” tambahnya.

Setelah pengumuman resmi, para pemimpin utama Iran, IRGC, dan seluruh angkatan bersenjata bergegas menyatakan dukungan kepada pemimpin baru tersebut.

Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang ditugaskan mengarahkan strategi keamanan Iran sejak perang pecah, menyerukan persatuan penuh di sekitar Pemimpin Tertinggi yang baru.

Baca Juga  Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Kepung Trump: Ini Perangmu Bukan Perang Kami!

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyambut pilihan tersebut dengan menyatakan bahwa mengikuti pemimpin tertinggi yang baru adalah “kewajiban agama dan nasional.”

Majelis Ahli sendiri menegaskan bahwa lembaga itu “tidak ragu-ragu sedetik pun” dalam menjatuhkan pilihan, meski di tengah kondisi yang mereka sebut sebagai “agresi brutal Amerika yang kriminal dan rezim Zionis yang jahat.”

Ali Khamenei: 37 Tahun Berkuasa, Syahid di Hari Pertama Perang

Ayatollah Ali Khamenei memerintah Iran selama 37 tahun, sejak menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini — pemimpin Revolusi Islam 1979.

Ia gugur dalam serangan AS-Israel di Teheran pada 28 Februari 2026, tepat pada hari pertama pecahnya perang yang kini telah menebarkan kekacauan di seluruh kawasan Timur Tengah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *