OBI, falalamo – Hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar PT Wanatiara Persada (WP) dan PT Rimba Kurnia Alam (RKA) mengungkap fakta mengejutkan.
Hampir 60 persen lansia di dua desa binaan menderita hipertensi dan kolesterol tinggi, Kamis (9/10/2025).
Ketua Tim FKIK Unkhair, dr. Nurmala Dewi, S.Ked., MHPE, menjelaskan dari 180 pasien yang diperiksa di Desa Sambiki dan Desa Buton, mayoritas adalah usia lanjut dengan kondisi kesehatan yang memprihatinkan.
“Dari total pasien, kasus hipertensi dan kolesterol paling dominan, hampir 60 persen. Ini angka yang sangat tinggi,” ungkap dr. Nurmala.
Yang lebih mengkhawatirkan, hampir 20 persen lansia yang diperiksa memiliki lebih dari satu penyakit sekaligus.
“Ada pasien lansia dengan hipertensi, diabetes, dan kolesterol bersamaan. Ini beban kesehatan yang sangat berat,” jelas dr. Nurmala.
Selain hipertensi dan kolesterol, arthritis gout atau asam urat juga mengintai lansia di wilayah tersebut dengan angka mencapai 50 persen.
Sementara diabetes melitus ditemukan pada 30 persen pasien.
Kondisi ini menunjukkan pola hidup dan akses kesehatan yang masih perlu diperbaiki di wilayah lingkar tambang.
“Banyak lansia yang tidak tahu mereka memiliki penyakit ini karena jarang memeriksakan diri. Ketika diperiksa, baru ketahuan sudah parah,” ungkap dr. Nurmala.
Melihat kondisi ini, tim FKIK Unkhair langsung memberikan pengobatan gratis kepada seluruh lansia yang terdeteksi memiliki penyakit tersebut.
Obat-obatan untuk hipertensi, kolesterol, asam urat, dan diabetes diberikan tanpa dipungut biaya.
“Kami tidak hanya memeriksa, tapi juga langsung memberikan obat dan edukasi tentang pola hidup sehat. Mereka diberi tahu makanan apa yang harus dihindari, pentingnya olahraga ringan, dan kontrol rutin,” jelas dr. Nurmala.
Tim juga melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol secara menyeluruh.
Hasilnya dicatat untuk menjadi data baseline kesehatan masyarakat yang akan digunakan untuk program intervensi kesehatan berkelanjutan.
Mengingat tingginya angka penyakit tidak menular pada lansia, tim juga memberikan sosialisasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada keluarga dan warga sekitar.
“Kami ajarkan bagaimana cara pertolongan pertama jika ada lansia yang mendadak lemas, sesak napas, atau pingsan akibat hipertensi atau diabetes,” ujar dr. Nurmala.
Sosialisasi BHD ini penting mengingat akses ke fasilitas kesehatan di wilayah tersebut masih terbatas.
Keluarga dan tetangga harus bisa memberikan pertolongan pertama sebelum pasien dibawa ke puskesmas atau rumah sakit.
PT Wanatiara Persada dan Rimba Kurnia Alam Komitmen Pantau Kesehatan Lansia
Temuan ini mendorong PT Wanatiara Persada dan PT Rimba Kurnia Alam untuk lebih serius memperhatikan kesehatan lansia di desa binaan.
Deputy GM Legal dan PR PT Wanatiara Persada, Darmanusa Alting, menyatakan komitmen perusahaan untuk melakukan pemantauan kesehatan lansia secara berkala.
“Data dari pemeriksaan ini akan kami gunakan sebagai acuan program kesehatan selanjutnya. Kami akan koordinasi dengan puskesmas setempat untuk memastikan lansia mendapat akses pengobatan berkelanjutan,” ujar Darmanusa.
Ia menambahkan, perusahaan juga akan memfasilitasi penyuluhan gizi dan pola hidup sehat khusus untuk lansia.
“Kami tidak ingin angka ini terus meningkat. Harus ada intervensi serius untuk menurunkan kasus penyakit tidak menular di kalangan lansia,” tegasnya.
Sekretaris Camat Obi, Fahdin Bahrudin, mengapresiasi temuan ini dan berharap ada tindak lanjut nyata.
“Ini membuktikan pemeriksaan kesehatan gratis dari PT Wanatiara dan RKA bukan sekadar basa-basi. Ada data riil yang bisa jadi dasar kebijakan kesehatan di wilayah kami,” ujarnya.
Fahdin berharap program kesehatan untuk lansia bisa dilakukan secara rutin, minimal tiga bulan sekali.
“Lansia butuh perhatian khusus. Mereka sudah mengabdi untuk keluarga, sekarang giliran kita yang peduli pada kesehatan mereka,” pungkasnya.
Program Kampung Sehat Tambang yang berlangsung 7-9 Oktober 2025 ini menjadi bukti bagaimana kolaborasi antara PT Wanatiara Persada, PT Rimba Kurnia Alam, dan FKIK Unkhair menghasilkan data kesehatan penting yang akan menjadi fondasi program kesehatan masyarakat di masa mendatang. (*)












