Ternate, falalamo – Lembaga Riset SIDEGO merilis temuan baru yang menunjukkan penurunan tajam peran ekonomi Kota Ternate dalam struktur ekonomi Maluku Utara.
Kota yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perdagangan dan jasa itu disebut mengalami “kemerosotan bertahap” sejak satu dekade terakhir.
Ketua SIDEGO, Dr. Mukhtar A Adam, menjelaskan bahwa pada 2014 Ternate masih berada di puncak sebagai penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara.
Namun dominasi itu mulai runtuh ketika kabupaten penghasil tambang naik signifikan.
“Dalam sepuluh tahun terakhir, Ternate terus mengalami koreksi. Dominasi ekonominya tergerus oleh pertumbuhan masif Halmahera Tengah dan daerah industri lainnya,” ujar Mukhtar.
Ternate dikenal sebagai pusat jasa, perdagangan, kesehatan, pendidikan, dan arus barang di Maluku Utara.
Namun pola konsumsi dan pergerakan ekonomi kini beralih ke wilayah industri.
Menurut Mukhtar, pertumbuhan kawasan industri tambang di Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Halmahera Selatan menarik arus modal, tenaga kerja, dan konsumsi keluar dari Ternate.
“Sebelumnya arus belanja dan pekerja berputar lewat Ternate. Kini pusat-pusat industri mempunyai ekosistemnya sendiri sehingga ketergantungan terhadap Ternate menurun,” jelasnya.
Sofifi Mulai Mengambil Peran
Perubahan terbesar lainnya adalah naiknya Sofifi sebagai pusat pemerintahan provinsi.
Aktivitas birokrasi yang semakin masif disebut turut “menggerogoti” posisi Ternate sebagai pusat administrasi dan layanan publik.
“Sofifi mulai mengisi ruang yang dulunya dipegang Ternate. Dalam lima hingga tujuh tahun ke depan, pergeseran ini akan semakin terasa,” ucap Mukhtar.
SIDEGO menilai Ternate tidak memiliki sektor unggulan besar yang mampu menciptakan lonjakan PDRB yang sama seperti sektor tambang dan industri pengolahan nikel di kabupaten lain.
“Keunggulan Ternate ada di jasa dan perdagangan. Tapi ketika ekonomi Malut digerakkan oleh sektor ekstraktif, Ternate tidak bisa berlari secepat itu,” kata Mukhtar.
Meski mengalami penurunan peran, Mukhtar menilai Ternate masih memiliki ruang pertumbuhan, terutama pada sektor UMKM, perdagangan logistik, dan layanan perkotaan modern.
Ia menyebut Ternate harus segera melakukan transformasi ekonomi yang tidak lagi hanya bergantung pada arus barang dari kabupaten lain.
“Ternate perlu memperkuat posisinya sebagai kota layanan modern. Jika tidak, kontraksi perannya bisa semakin dalam,” pungkasnya. (*)












