Halmahera SelatanKesehatanLingkunganMaluku UtaraPeristiwa

Halmahera Selatan Dikepung Kabut Haze, BMKG Ungkap Penyebab Jarak Pandang Menurun

×

Halmahera Selatan Dikepung Kabut Haze, BMKG Ungkap Penyebab Jarak Pandang Menurun

Sebarkan artikel ini
Kondisi udara kabur (haze) yang menyelimuti wilayah Halmahera Selatan, Maluku Utara. BMKG Labuha mengonfirmasi penurunan jarak pandang terjadi akibat kombinasi minimnya curah hujan, angin kencang, dan partikel debu di atmosfer. (Foto: Pelabuhan Habibi Labuha/falalamo.com)

LABUHA, falalamo.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Labuha mengungkap penyebab utama menurunnya jarak pandang di wilayah Halmahera Selatan dalam beberapa waktu terakhir.

Fenomena udara keruh atau kabur (haze) yang membuat jarak pandang terbatas di kisaran 5 hingga 8 kilometer ini dipicu oleh kombinasi cuaca kering dan tiupan angin kencang.

Melalui keterangan resminya, BMKG Labuha menjelaskan, fenomena haze terjadi akibat menumpuknya partikel kering, debu, asap, dan aerosol di atmosfer yang kemudian memicu hamburan cahaya (light scattering).

Berikut adalah empat faktor utama penyebab udara kabur di Halmahera Selatan berdasarkan analisis atmosfer BMKG:

  • Curah Hujan Minim: Musim kemarau membuat proses pembersihan alami atmosfer (scavenging process) oleh air hujan menjadi sangat berkurang, sehingga partikel debu bertahan lebih lama di udara.
  • Atmosfer Kering: Kondisi udara yang relatif kering di permukaan membuat partikel aerosol dan debu lebih mudah melayang dan bertahan di lapisan atmosfer dekat tanah.
  • Angin Kencang: Tiupan angin yang cukup kuat berfungsi mengangkat debu serta partikel kering dari permukaan tanah, lalu menyebarkannya secara luas ke berbagai wilayah di Halmahera Selatan.
  • Sisa Asap Pembakaran: Keberadaan sisa partikel hasil pembakaran lahan masa lalu turut memperparah konsentrasi partikel di udara setelah kembali terangkat oleh pergerakan angin.
Baca Juga  Penumpukan Sampah di Labuha, DLH Halsel: Keterbatasan Armada Jadi Kendala

BMKG memastikan bahwa kondisi ini merupakan siklus atmosfer yang lumrah terjadi pada puncak musim kemarau.

Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi penurunan kualitas udara serta senantiasa memantau informasi cuaca resmi dari BMKG sebelum beraktivitas di luar ruangan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *