LABUHA, Falalamo – Sultan Bacan ke-22, M. Irsyad Maulana Sjah, memberikan apresiasi tinggi terhadap program Les Bahasa Mandarin yang diinisiasi oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Halmahera Selatan berkolaborasi dengan PT Rimba Kurnia Alam (RKA).
Sultan memandang program ini sebagai langkah awal yang krusial untuk membantah anggapan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal masih kurang siap menghadapi tantangan di daerah.
Menurut Sultan Irsyad, inisiatif ini bukan hal baru. Ia mencontohkan leluhurnya, almarhum Ayah dari Sultan Muksin (Ou pulang-pulang), yang mampu menguasai lebih dari satu bahasa.
“Ini kebiasaan orang pada waktu itu, ini bukan persoalan baru tapi ini kebiasaan Orde Lama yang perlu direhabilitasi kembali,” ujar Sultan.
Perluasan Pemikiran dan Diplomasi Kebudayaan
Sultan Bacan, yang berpengalaman menguasai lebih dari dua bahasa asing seperti Prancis, Inggris, Sunda, menjelaskan bahwa penguasaan bahasa mampu membuka gerbang pengetahuan lebih dalam, bahkan melampaui persoalan batin.
“Ini yang kita perlukan untuk meluaskan pemikiran kita, mencari solusi-solusi buat menghadapi berbagai polemik dalam dua-tiga dekade belakangan yang kurang baik,” katanya.
Ia berharap, program bahasa asing ini dapat merestorasi diplomasi kebudayaan yang selama ini terabaikan.
“Sebagaimana dampak pengetahuan bahasa asing di masa lampau telah membawa orang Eropa datang di Bacan, meminum kopi kita, dan mengenal serta datang langsung,” imbuhnya.
Sultan berharap program ini dapat merangsang minat pemuda untuk menguasai bahasa asing, sehingga dapat memperluas pola pikir dan mengurangi xenofobia, terutama di tahun politik yang seringkali diwarnai isu-isu negatif.
“Kesultanan berharap program ini dapat bermanfaat dan yang menjalankan program ini dapat beramanah,” tegasnya, seraya menegaskan dukungan penuh dari pihak kesultanan demi kemaslahatan banyak orang.
Harapan pada Perusahaan Tambang: Transparansi dan Sinergi
Selain memberikan pandangannya tentang program Les Bahasa Mandarin, Sultan Bacan juga menitipkan pesan penting kepada perusahaan-perusahaan tambang yang beroperasi di wilayahnya, khususnya industri besar.
Ia menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan memperhatikan nasib masyarakat lingkar tambang.
“Kami berharap lebih ke industri tambang agar dapat menjaga lingkungan apalagi perusahaan-perusahaan besar yang kini sedang beroperasi agar lebih memperhatikan nasib masyarakat lingkar tambang,” ujar Sultan.
Lebih lanjut, Sultan Irsyad menegaskan bahwa pihak kesultanan tidak alergi terhadap investasi di daerah.
Ia justru berharap adanya sinergitas dan kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat.
Kunci utama untuk mencapai sinergi tersebut, menurut Sultan, adalah transparansi informasi dari pihak perusahaan.
“Yang penting juga mereka (perusahaan) punya keinginan untuk membuka keran informasi secara transparan sehingga tercipta sinergitas. Kendala informasi sehingga sebagai warga pun saya merasa kurang mendapat informasi buat bereksplorasi bagaimana sih keadaan sekarang, jangan menunda informasi sehingga nanti apa yang terjadi baru kita tahu belakangan,” tutupnya. (*)













