Operasi pertambangan nikel di wilayah Halmahera, Maluku Utara kian mengkhawatirkan.
Sejumlah studi terbaru membongkar fakta mengejutkan, laporan Nationalgeographic menyebut aktivitas keruk bumi ini tidak hanya merusak alam, tetapi juga menimbun ancaman mematikan bagi kesehatan sekaligus memiskinkan perekonomian warga lokal.
Kondisi darurat ini terungkap dalam studi bertajuk “Maintaining Environmental Justice, Human Rights, and Climate Law to Protect Vulnerable Communities: Case Study of Nickel Mining Impacts in Central Halmahera, North Maluku” yang digarap oleh Iskandar, peneliti dari Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.
Iskandar menegaskan bahwa eksploitasi nikel habis-habisan telah menghancurkan ekosistem dan memicu deforestasi hingga 13 persen di Halmahera Tengah. Dampaknya pun menjalar ke mana-mana.
“Penambangan nikel di Halmahera Tengah mengganggu keseimbangan lingkungan, menyebabkan kerusakan pada sumber air bersih, sumber daya hayati, dampak ekonomi, kesehatan, hak asasi manusia, dan hukum iklim pada masyarakat rentan,” ujar Iskandar dalam makalah studinya.
Melihat kondisi yang kian kritis, Iskandar mendesak pemerintah untuk segera turun tangan membenahi kebijakan tata ruang dan mengetatkan hukum.
“Pemerintah perlu mengatur kebijakan deforestasi dan reforestasi, perlu penegakan hukum yang ketat terhadap perusahaan penambangan nikel yang melanggar standar prosedur operasional lingkungan,” tegasnya.
Air Sungai ‘Sangat Tercemar’, Ikan Mengandung Arsenik
Dampak mengerikan ini diperkuat oleh riset kolaboratif antara Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako yang bertajuk The Extension Impact of Nickel Industry Activities in Weda Bay Central Halmahera.
Riset tersebut menemukan bahwa aktivitas industri nikel di Teluk Weda telah mengubah total ruang hidup masyarakat.
Yang paling fatal, kualitas air Sungai Ake Jira—yang menjadi tumpuan warga Weda untuk air minum—anjlok drastis dari Kelas I menjadi Kelas III.
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan sedimen di Sungai Ake Jira dan Ake Sagea masuk dalam kategori “Sangat Tercemar” karena kadar kromium dan nikel yang melebihi standar USEPA (Badan Perlindungan Lingkungan AS).
Bukan cuma air, ancaman juga menyusup ke meja makan warga. Ikan-ikan di Teluk Weda terbukti telah terkontaminasi arsenik dan merkuri.
Khusus untuk arsenik, kadarnya melonjak drastis hingga 20 kali lipat dibanding tahun 2007 lalu.
Mengerikan! Darah Warga Tercemar Merkuri Tinggi
Dampak kontaminasi laut ini langsung menghantam tubuh manusia. Peneliti memeriksa sampel darah dari 46 responden masyarakat setempat. Hasilnya bikin geleng-geleng kepala.
Sebanyak 22 orang (47%) memiliki kadar merkuri di atas batas aman (>9 µg/L), dan 15 orang (32%) mengantongi kadar arsenik yang melebihi ambang batas (12 µg/L).
Ironisnya, kadar racun yang lebih tinggi ini justru ditemukan pada penduduk yang bukan pekerja tambang nikel.
Jalur utama paparan racun ini berasal dari konsumsi makanan laut.
Warga pesisir terbiasa memakan ikan hasil tangkapan Teluk Weda dua hingga tiga kali sehari, tanpa menyadari bahaya yang mengintai di dalamnya.
Atas temuan ini, para peneliti mendesak Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah konkret untuk menekan paparan dan mengantisipasi ledakan penyakit tidak menular di masa depan.
Petaka nikel nyatanya tidak berhenti di Halmahera Tengah. Wilayah Halmahera Timur, khususnya kawasan Teluk Buli, kini ikut berada di ujung tanduk.
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Ismet, mengungkapkan bahwa pembukaan lahan tambang membuat lapisan tanah tidak stabil.
Akibatnya, saat hujan turun, sedimentasi tanah merah langsung hanyut ke laut dan mengubah warna perairan menjadi keruh.
“Masuknya material padatan tersuspensi dalam jumlah yang besar dapat menurunkan kualitas perairan. Kekeruhan yang meningkat akan menghambat masuknya cahaya matahari ke kolom perairan, sehingga mengganggu proses fotosintesis berbagai organisme laut,” jelas Meutia.
Efek domino ini langsung memukul ekosistem terumbu karang. Karang yang tertutup lumpur sedimen akan mengalami stres berat, memicu pemutihan (coral bleaching), hingga berujung pada kematian massal.
Jika karang mati, maka ikan-ikan akan kehilangan habitat dan tempat mencari makan.
Ekosistem penting lain seperti lamun dan mangrove pun ikut terancam punah.
Meutia mewanti-wanti bahwa logam berat seperti nikel, besi, mangan, dan kadmium yang mengendap di laut akan terus merayap naik dalam rantai makanan hingga akhirnya mendarat di tubuh manusia.
“Dalam jangka panjang, logam berat yang terakumulasi dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan kronis, mulai dari penyakit kulit, gangguan saraf, penurunan fungsi ginjal, hingga peningkatan risiko kanker,” pungkas Meutia mengingatkan nasib masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari laut.
(*)












