Ternate, falalamo – Industri pengolahan nikel di Maluku Utara terus mencatat pertumbuhan pesat dalam lima tahun terakhir.
Namun lonjakan kapasitas smelter belum sejalan dengan penyerapan tenaga kerja lokal.
Temuan terbaru Lembaga Riset SIDEGO mencatat mayoritas pekerjaan di sektor ini masih didominasi tenaga kerja migran dari luar provinsi.
Dalam laporan pasar kerja 2025, sektor industri pengolahan menyerap 167,69 ribu pekerja atau 24,90% dari total tenaga kerja.
Meski menjadi motor pertumbuhan ekonomi, karakter industri ini dinilai padat modal dan minim kontribusi terhadap tenaga kerja lokal berpendidikan menengah ke bawah.
“Sektor ini tumbuh cepat berkat smelter nikel, tetapi tidak inklusif terhadap tenaga kerja lokal. Mayoritas posisi justru terisi pekerja migran dari provinsi lain,” kata Pakar Ekonomi Universitas Khairun Ternate yang juga Ketua SIDEGO, Mukhtar Adam, dalam laporan riset terbarunya.
SIDEGO mencatat bahwa situasi tersebut turut mendorong naiknya pekerja paruh waktu dan setengah penganggur di Maluku Utara.
Dari 705,58 ribu angkatan kerja pada 2025, terdapat 71,09 ribu warga yang masuk kategori setengah penganggur akibat jam kerja yang rendah dan pendapatan tidak stabil.
Kondisi ini memperkuat fenomena “growth without jobs”, yakni pertumbuhan ekonomi tinggi yang tidak berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Ketimpangan juga terlihat pada daerah-daerah industri utama seperti Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, dan Halmahera Timur yang mencatat geliat ekonomi tinggi namun tidak sepenuhnya menyerap tenaga kerja lokal.
SIDEGO menilai ketidakseimbangan antara pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu sumber tekanan baru pasar kerja Maluku Utara.
Fenomena ini diperkirakan berlanjut tanpa intervensi kebijakan yang menyesuaikan kompetensi lokal dengan kebutuhan industri. (*)













