HukrimHumanioraNasionalPeristiwa

Wajah Korban TPPO Kini Meluas: Dari Perempuan Miskin hingga Sarjana Muda

×

Wajah Korban TPPO Kini Meluas: Dari Perempuan Miskin hingga Sarjana Muda

Sebarkan artikel ini
Korban 'online scam' terjebak dalam ketidakpastian di sebuah kompleks di dalam KK Park, di Myawaddy, Myanmar, 26 Februari 2025. (Stringer/REUTERS)

falalamo – Kasus empat remaja Halmahera Selatan, Maluku Utara yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Myanmar menunjukkan perluasan profil korban perdagangan manusia di Asia Tenggara.

Kini tidak hanya perempuan dari daerah miskin, tetapi juga anak muda berpendidikan yang menjadi sasaran sindikat.

Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan telah terjadi perluasan korban perdagangan orang di Indonesia.

Profil korban yang dulu identik dengan perempuan dari daerah miskin dengan ekonomi rendah, kini meluas menjadi orang muda bahkan sarjana lulusan perguruan tinggi.

“Kalau dulu, wajah korban perdagangan manusia biasanya adalah perempuan dari daerah miskin, yang ekonominya rendah. Sekarang meluas wajahnya, menjadi orang muda, bahkan sarjana lulusan perguruan tinggi,” kata Wahyu.

Kasus keempat korban asal Halsel—Feni Astari Dareno (23), Asriadi Musakir (24), Zether Maulana (22), dan Tantoni—menjadi bukti nyata perluasan profil korban ini.

Baca Juga  Gubernur Maluku Utara Konsultasi ke KPK Soal Skor MCP

Mereka tergiur janji pekerjaan marketing dengan gaji Rp 12 juta per bulan di Thailand, namun berakhir dipaksa menjadi scammer di Myanmar dengan ancaman kekerasan.

Asia Tenggara Surga Sindikat TPPO

Asia Tenggara menjadi kawasan di mana kasus perdagangan orang tumbuh subur karena belum adanya platform bersama ASEAN untuk melindungi para pekerja migran, salah satu kelompok yang paling sering menjadi korban TPPO.

Menurut PBB, ratusan ribu orang telah diperdagangkan ke Myanmar, Kamboja, dan Laos dari seluruh dunia.

Banyak dari mereka tergiur dengan janji pekerjaan kantoran yang nyaman, namun setelah tiba malah ditahan di luar keinginan mereka dan dipaksa mendapatkan penghasilan dengan melakukan penipuan online yang menargetkan korban secara global.

Baca Juga  Wali Kota Ternate Buka STQH ke-28, Ajak Masyarakat Cintai Al-Qur'an

Penelitian US Institute of Peace memperkirakan penipuan ini menghasilkan pendapatan global sebesar USD 63,9 miliar atau sekitar Rp 1.022 triliun per tahun. Sebagian besar—sekitar USD 39 miliar—dihasilkan di Kamboja, Myanmar, dan Laos.

Kelompok Kriminal China di Balik Operasi

Menurut Council on Foreign Relations, lembaga pemikir terkemuka di Amerika Serikat, beberapa kelompok kriminal terorganisasi sebagian besar berasal dari China mengoperasikan pusat-pusat penipuan dunia maya di seluruh Asia Tenggara, terutama di negara-negara miskin seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Penipuan yang mereka lakukan biasanya merupakan upaya untuk menipu korban yang tidak sadar di seluruh dunia agar mengeluarkan tabungan mereka.

Banyak kelompok kejahatan terorganisasi datang ke negara-negara ini setelah Beijing memulai tindakan keras antikorupsi terhadap perjudian lintas batas ilegal dan pencucian uang di Makau.

Baca Juga  Selidiki Kasus TPPO Myanmar, Polda Malut Periksa Pelapor dan Saksi di Halsel

Pusat-pusat tersebut dikelola oleh ribuan orang yang sebagian besar telah diperdagangkan secara ilegal oleh kelompok kriminal dan dipaksa bekerja dalam kondisi tidak manusiawi dan penuh kekerasan.

Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia memperkirakan lebih dari 200 ribu orang telah diperdagangkan ke Myanmar dan Kamboja untuk melakukan penipuan daring ini.

Jaringan perdagangan manusia ini dilaporkan menyebar jauh melampaui wilayah tersebut dan menarik korban dari berbagai negara, termasuk Brasil, Kenya, dan Belanda.

Penggerebekan militer Myanmar di KK Park pada 20 Oktober 2025 yang menangkap 2.198 orang menunjukkan skala masif operasi penipuan daring ini.

Namun kasus empat remaja Halsel yang masih terjebak di Myanmar mengingatkan bahwa ribuan WNI lainnya mungkin masih menjadi korban di berbagai pusat scamming di Asia Tenggara. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *