Labuha, falalamo.comĀ – Seorang warga Halmahera Selatan mengungkap dugaan penyalahgunaan masif QR Code Subsidi Tepat Pertamina miliknya di SPBU Labuha dan SPBU Babang.
Akun bernama @Abuhabs Maxio Abuhabs mendeteksi ratusan liter Pertalite bersubsidi diambil oknum tanpa sepengetahuannya.
Melalui postingan Facebook pada Selasa (28/4/2026), Abuhabs menunjukkan bukti screenshot riwayat transaksi yang mencurigakan.

Data aplikasi menampilkan pembelian Pertalite dengan volume tidak wajar hampir setiap hari selama periode Maret-April 2026.
“Terjadi pengisian BBM jenis Pertalite berkali-kali dalam sehari dengan volume yang tidak masuk akal untuk satu kendaraan pribadi. Contoh: pengisian 50 liter hampir setiap hari,” tulis Abuhabs.
Screenshot yang diunggah memperlihatkan transaksi mencapai 99,74 liter pada 22 April 2026 senilai Rp997.400.
Transaksi lain menunjukkan pembelian 50 liter berulang kali dengan rentang waktu berdekatan. Total pengeluaran dalam tangkapan layar mencapai jutaan rupiah.

Abuhabs menegaskan seluruh transaksi tersebut terjadi tanpa kehadirannya di lokasi SPBU.
Ia mencurigai operator nosel membiarkan pihak tidak bertanggung jawab menggunakan QR Code miliknya, diduga untuk kepentingan penimbunan atau jaringan mafia BBM.
“Operator wajib mencocokkan nomor polisi kendaraan dengan data yang muncul saat QR Code dipindai. Membiarkan orang lain menggunakan QR Code yang bukan miliknya adalah pelanggaran berat,” tegasnya.
Dalam postingannya, Abuhabs mengancam melaporkan kasus ini ke Call Center Pertamina 135 dan pihak berwajib jika penyalahgunaan terus berlanjut.
Ia juga mengingatkan aspek hukum yang bisa menjerat pelaku.
Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, penyalahgunaan BBM bersubsidi dapat dipidana penjara maksimal 6 tahun dan denda hingga Rp60 miliar.
Sementara Pasal 378 KUHP menjerat pelaku penipuan menggunakan identitas orang lain.
“Jika terus berlanjut, saya tidak akan segan melaporkan bukti-bukti transaksi ini agar diusut siapa oknum yang bermain di balik nosel,” ancam Abuhabs.
Ia meminta pengelola SPBU Labuha dan SPBU Babang memperketat verifikasi di lapangan agar subsidi tepat sasaran untuk rakyat yang membutuhkan, bukan oknum pencari keuntungan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari manajemen SPBU terkait maupun Pertamina Regional Maluku Utara. (*)













