Falalamo – Youtuber Raymond Chin mengungkapkan tiga alasan utama mengapa mayoritas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) gagal dalam jangka panjang.
Melalui video terbarunya berjudul “Kenapa Mayoritas Bisnis UMKM Kalian GAGAL”, Raymond menjelaskan bahwa sekitar dua pertiga bisnis baru tidak mampu bertahan dalam jangka panjang.
Raymond Chin menekankan bahwa industri UMKM yang berkontribusi hingga Rp 8.500 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih menghadapi tantangan signifikan dari sisi competitiveness atau daya saing.
“Bisa dibilang 2/3 dari bisnis-bisnis baru itu gagal in the longer term. Jadi jangka panjangnya tuh ga bisa bertahan,” ujar Raymond dalam videonya.
Penyebab pertama kegagalan UMKM adalah lack of digitalization atau kurangnya digitalisasi.
Menurut data yang dipaparkan Raymond, hanya 8% bisnis di Indonesia yang sudah mengadopsi digital, jauh tertinggal dari Singapura yang mencapai 65% dan Vietnam 35%.
“Dari dulu tuh orang kayak mikir digitalisasi, semua udah main sosmed, tapi kenapa sebagai end user, sebagai customer kita tuh digital banget, tapi secara bisnis kita ga ngerti cara digital,” jelasnya.
Raymond mengungkapkan bahwa 84% UMKM Indonesia masih memiliki mindset tradisional.
Mereka masih mengandalkan toko fisik dan word of mouth untuk mendapatkan pelanggan.
Untuk mengatasi masalah digitalisasi, Raymond menyarankan agar UMKM mulai dari aspek marketing, seperti membuat sosial media dan toko online, serta mempelajari digital marketing.
Selanjutnya beralih ke operasional bisnis dengan menggunakan tools digital untuk inventory management, accounting, dan reporting.
“Lebih dari 90% bisnis di Indonesia itu semuanya manual. Pake kertas, feeling-feeling-an, catatan pribadi. Padahal sekarang tuh banyak banget tools gratis untuk track inventory, untuk accounting, untuk semua,” terangnya.
Penyebab kedua adalah competition from larger firms atau persaingan dengan perusahaan besar.
Raymond menjelaskan bahwa rendahnya kemampuan UMKM dalam menyusun business plan formal menjadi kendala utama.
“Ini dari kementerian UMKM dan Koperasi, dia bilang cuma 17% pelaku UMKM yang bisa bikin formal business plan,” katanya.
Meski begitu, Raymond menekankan bahwa UMKM memiliki keunggulan dari sisi kecepatan adaptasi dibandingkan perusahaan besar.
“Struktur organisasi dan birokrasi dari perusahaan besar bikin mereka mungkin butuh 2 tahun untuk inovasi produk baru. UMKM—set dua hari jadi,” ujarnya.
Penyebab ketiga adalah difficulty on catching trends atau kesulitan mengikuti tren.
Raymond menekankan pentingnya mengikuti perubahan behavior customer, bukan sekadar mengikuti hype.
“Cuma 10% UMKM yang pake digital, contohnya kayak Google Trends, Google Analytics untuk baca behavior customer. Cuma 6% UMKM yang bisa ngelakuin pricing strategy atau ngubah harga, modal, economics berdasarkan trend,” jelas Raymond.
Bahkan, sebanyak 74% bisnis tidak pernah melakukan riset pasar dan tren sebelum meluncurkan produk baru.
Padahal kemampuan beradaptasi menjadi keterampilan inti yang harus dimiliki pelaku UMKM.
Raymond Chin sendiri saat ini sedang mempersiapkan program Sevenpreneur, sebuah interactive program untuk membantu pelaku UMKM menyusun business plan dan berkembang.
(*)













