Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
HumanioraKabupaten Halmahera SelatanLingkunganMaluku Utara

FEATURE: Menanam Pohon untuk Menahan Air di Gane Halmahera Selatan

×

FEATURE: Menanam Pohon untuk Menahan Air di Gane Halmahera Selatan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tanaman
Ilustrasi bibit tanaman (foto: LukasJohnns/px)

Falalamo.com, Labuha – Hujan turun singkat tapi berat di Kecamatan Gane, Halmahera Selatan. Dalam hitungan jam, sungai-sungai kecil yang berhulu di perbukitan berubah keruh dan meninggi.

Lumpur ikut terbawa, menyusuri alur air yang semakin cepat menuju kampung. Bagi warga setempat, ini bukan lagi kejadian yang mengejutkan.

Pola hujan semacam ini kian sering muncul dalam beberapa tahun terakhir, seiring berkurangnya tutupan hutan di wilayah hulu dan perubahan iklim yang membuat hujan datang lebih ekstrem.

Dulu, hujan memberi waktu. Air meresap perlahan ke tanah, tertahan oleh akar dan serasah hutan.

Kini, waktu itu semakin singkat. Di banyak tempat di Indonesia, kondisi serupa berujung pada banjir dan longsor.

Di Gane, dampaknya mulai terasa—dan sebagian warga memilih tidak menunggu lebih jauh untuk bereaksi.

Di tengah perubahan itu, Jaenal melakukan satu hal sederhana: menanam pohon.

Perubahan di Gane tidak terjadi tanpa sebab. Dalam beberapa tahun terakhir, pembukaan hutan di wilayah hulu untuk perkebunan skala besar telah mengubah lanskap.

Tutupan vegetasi berkurang, serasah menghilang, dan tanah kehilangan daya ikatnya.

Ketika hujan turun, air tidak lagi tertahan oleh akar-akar pohon. Ia langsung mengalir ke sungai-sungai pendek yang bermuara ke pemukiman.

Kondisi ini diperparah oleh krisis iklim global. Udara yang semakin hangat mampu menyimpan lebih banyak uap air.

Baca Juga  Ternate Terapkan Jam Malam Anak-Remaja Mulai Pukul 22.00, Ini Aturannya!

Ketika hujan turun, volumenya menjadi lebih besar dalam waktu yang lebih singkat. Di wilayah tropis seperti Indonesia, perubahan ini membuat hujan ekstrem semakin sulit diprediksi dan dampaknya terasa lebih cepat, terutama di daerah dengan daerah aliran sungai yang pendek seperti Gane.

Pola tersebut bukan hanya terjadi di Maluku Utara. Dalam beberapa pekan terakhir, banjir melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh.

Hujan deras yang turun dalam waktu singkat membuat sungai-sungai meluap, merendam permukiman dan lahan pertanian.

Sejumlah kajian lingkungan menunjukkan bahwa banjir-banjir tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan berkurangnya tutupan hutan di daerah aliran sungai.

Ketika hutan dibuka tanpa pengelolaan yang memadai, air hujan kehilangan ruang untuk meresap dan mengalir perlahan. Ia turun sekaligus—membawa lumpur dan kerusakan yang lebih luas.

Bagi banyak wilayah, banjir di Sumatera dan Aceh menjadi pelajaran mahal tentang apa yang terjadi ketika hutan tidak lagi berfungsi sebagai penyangga alami.

Di Gane, dampaknya memang belum sebesar itu. Namun tanda-tandanya mulai terlihat.

Di tengah situasi itu, Jaenal memilih melakukan satu hal yang ia anggap paling masuk akal.

Pagi hari, ia berdiri di lahan bekas hutan yang kini berbatasan langsung dengan kebun sawit.

Di tangannya ada bibit pohon keras—jenis lokal yang akarnya dalam dan relatif tahan genangan.

Baca Juga  PT Wanatiara Persada Bagikan THR dan Sembako ke 1.017 Karyawan dan Warga Lingkar Tambang

Jaenal menggali lubang tanam sedalam betis orang dewasa, cukup untuk satu bibit pohon yang akarnya kelak diharapkan mampu menahan tanah di musim hujan.

Lubang-lubang tanam itu dibuat manual, mengikuti kontur lahan, tanpa alat berat dan tanpa papan nama program.

Jaenal tidak menyebut dirinya penjaga hutan. Ia juga tidak berbicara tentang menyelamatkan bumi.

Baginya, menanam pohon adalah cara paling sederhana untuk memperlambat aliran air dari hulu ke kampung.

Ia tahu, satu pohon tidak akan menghentikan banjir. Tetapi tanah yang dibiarkan tanpa penutup vegetasi hampir pasti akan mempercepatnya.

Ia merasakan perubahan iklim bukan dari laporan ilmiah, melainkan dari keseharian. Musim hujan bergeser, Angin kadang datang lebih kencang lalu berhenti mendadak.

Sungai menjadi keruh lebih lama setelah hujan. Tanah di kebun mudah longsor meski hujan tidak berlangsung lama.

Semua itu, baginya, adalah tanda bahwa keseimbangan alam di sekitarnya sedang terganggu.

Setiap lubang tanam yang ia buat bukan simbol perlawanan besar. Jaenal memahami bahwa pembukaan hutan di Gane melibatkan kepentingan ekonomi yang jauh lebih kuat dari seorang warga. Namun ia juga tahu, akar pohon adalah satu-satunya penahan alami yang masih bisa diusahakan di tempat itu.

“Kalau hujan turun bersamaan, air tidak punya waktu,” katanya suatu sore, sambil menutup lubang tanam dengan tanah basah.

Baca Juga  PLN Bacan Minta Maaf, Listrik Padam Gegara Disambar Petir 4 Kali

Ia berharap pohon-pohon itu kelak memberi jeda—beberapa menit saja—agar air tidak langsung turun ke sungai dan meluap ke pemukiman.

Di banyak wilayah Indonesia, banjir dan longsor kerap dipahami sebagai bencana alam semata.

Padahal, di banyak kasus, kerusakan lingkungan—terutama deforestasi tanpa pengelolaan daerah aliran sungai—memperbesar risiko tersebut.

Hutan bukan hanya habitat satwa, tetapi juga infrastruktur alami yang bekerja diam-diam menahan air dan tanah.

Jaenal terus menanam, meski tahu hasilnya tidak akan segera terlihat. Ia tidak menunggu perubahan kebijakan atau proyek besar.

Ia hanya memastikan lubang-lubang tanam itu tidak dibiarkan kosong. Baginya, menanam pohon adalah cara memberi waktu—waktu bagi tanah untuk menyerap air, dan waktu bagi kampungnya agar tidak kembali tergenang setiap musim hujan.

Namun, Jaenal dalam tulisan ini tidak pernah benar-benar ada. Ia bukan sosok yang tercatat di Gane, bukan pula bagian dari program rehabilitasi hutan atau laporan resmi pemerintah.

Ia hanyalah kemungkinan—gambaran tentang tindakan yang seharusnya hadir di wilayah-wilayah yang hutannya terus berkurang di tengah krisis iklim yang semakin nyata.

Tulisan ini sebagai pengingat sunyi, bahwa di banyak tempat, yang masih kurang bukanlah data atau peringatan, melainkan kesediaan untuk mulai menanam sebelum hujan berikutnya datang.

 

Maulana MPM Djamal Syah 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *