Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
HumanioraKabupaten Halmahera TengahLifestyleMaluku UtaraNasional

Foto di Halmahera Tengah Raih World Press Photo Award, Soroti Dampak Industri Nikel

×

Foto di Halmahera Tengah Raih World Press Photo Award, Soroti Dampak Industri Nikel

Sebarkan artikel ini
Pekerja tambang duduk di belakang mobil bak di depan area pabrik PT. IWIP di Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Indonesia, pada 12 Agustus 2024. Foto karya fotografer Indonesia, Mas Agung Wilis Yudha Baskoro, ini yang menjadi salah satu pemenang kategori tunggal untuk kawasan Asia Pasifik dan Oseania WPP 2025. (ARSIP WORLD PRESS PHOTO)

Falalamo – Kabar membanggakan datang dari dunia fotografi Indonesia. Fotografer Mas Agung Wilis Yudha Baskoro meraih pengakuan internasional dengan dianugerahinya penghargaan bergengsi World Press Photo Award 2025.

Karya fotonya yang kuat secara visual dan naratif berhasil memukau dewan juri.

Foto pemenang penghargaan ini secara mendalam menyoroti dampak kemanusiaan dari perkembangan pesat industri nikel di Indonesia.

Terbit di China-Global South Project (CGSP), bidikan kamera Mas Agung merekam realitas pahit yang dialami oleh para pekerja tambang nikel di Weda Tengah, Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.

Dalam foto tersebut, terlihat jelas sekelompok pekerja tambang berdesakan di bak sebuah truk yang berada di dekat sebuah smelter nikel.

Baca Juga  ISNU Tolak Oligarki di Proyek Jalan Trans Kie Raha Maluku Utara

Kondisi saat pengambilan gambar memperlihatkan hujan yang membasahi tanah, dengan kepulan asap tebal membubung di kejauhan, kontras dengan para buruh lain yang berjalan mengenakan jas hujan plastik seadanya di tengah lanskap industri yang luas.

Karya Mas Agung ini secara efektif menggambarkan perubahan dramatis yang terjadi di Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara, wilayah yang kini menjadi pusat pertumbuhan industri nikel di Indonesia seiring meningkatnya permintaan global akan logam tersebut, terutama dari sektor teknologi dan kendaraan listrik.

Ekspansi penambangan dan pengolahan nikel skala besar dengan cepat mengubah wilayah-wilayah yang dulunya terpencil.

Menerima penghargaan prestisius ini, Mas Agung Wilis Yudha Baskoro menyampaikan rasa rendah hatinya. Baginya, penghargaan ini bukan sekadar perayaan atas pencapaian pribadi, melainkan sebuah panggilan mendesak untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan yang diangkat dalam fotonya.

Baca Juga  Dari Penjara ke Kebun: Kisah 'Petani Miliarder' yang Ajari Napi Raup Peluang Puluhan Miliar

“Saya menerima penghargaan ini dengan rendah hati, bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai seruan untuk memberikan perhatian,” ungkapnya, seperti dikutip dari laman China-Global South Project.

Sebagai saksi mata langsung dari transformasi yang sedang berlangsung, Mas Agung melalui lensa kameranya tidak hanya mendokumentasikan, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang dampak industri nikel bagi masyarakat sekitar.

Yudha mengungkapkan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri nikel merasakan dampaknya secara bertahap, mulai dari perubahan lahan, penurunan kualitas udara, hingga masalah kesehatan.

Ia mencontohkan gejala awal seperti bersin, mengi, batuk, hingga kesulitan bernapas dan iritasi mata.

Melalui karyanya yang mendapatkan pengakuan global ini, Mas Agung berharap akan ada perhatian yang lebih besar terhadap isu ini.

Baca Juga  Pemprov Maluku Utara-Polda Teken MoU Pengamanan Program Pemerintah

Ia juga berharap kebijakan yang lebih menguntungkan masyarakat adat dan komunitas lokal, termasuk para pekerja tambang, dapat diimplementasikan, serta dukungan nyata diberikan kepada mereka yang terdampak oleh isu-isu yang diangkat melalui fotonya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *