falalamo.com – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel di tengah eskalasi konflik yang kian memanas.
Juru bicara IRGC, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Teheran kini beralih dari strategi defensif ke fase serangan terus-menerus.
Zolfaghari menyoroti jatuhnya mental pasukan lawan akibat kekalahan beruntun di lapangan.
Ia memperingatkan Presiden AS Donald Trump dan rezim Zionis bahwa Iran memegang kendali penuh atas durasi konflik yang terjadi.
“Kami telah memperingatkan kalian (Trump dan Zionis), kalian dapat memulai perang ini, tetapi kamilah yang akan menentukan kapan perang ini berakhir,” tegas Zolfaghari dalam pernyataan resminya, dikutip Jumat (13/3/2026).
Terkait jalur logistik global, IRGC menyatakan tidak perlu melakukan penutupan total Selat Hormuz secara administratif karena mereka kini memegang inisiatif militer.
Namun, Zolfaghari memastikan tidak ada satu liter pun minyak yang akan diizinkan lewat untuk keperluan AS, Israel, maupun sekutu mereka.
Ia menegaskan bahwa setiap kapal yang terafiliasi dengan musuh dan mencoba melintasi selat strategis tersebut akan dianggap sebagai target militer yang sah.
“Dengan kekuatan, kami tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak melewati selat untuk AS, Zionis, dan kaki tangan mereka. Kapal apa pun yang bekerja untuk mereka akan menjadi sasaran sah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Zolfaghari menyatakan bahwa era serangan balasan (counter-attack) telah usai.
Saat ini, militer Iran telah memasuki periode serangan tanpa henti sampai musuh mengakui kekalahan mereka.
Ia juga mengejek pasukan AS yang disebutnya pengecut dan sering bersembunyi di balik infrastruktur sipil atau negara-negara di Asia Barat.
Menurutnya, pangkalan-pangkalan militer lawan akan dihantam satu demi satu sebagai balasan atas tewasnya warga sipil di Minab serta para pemimpin Iran.
“Periode serangan balasan telah berakhir. Kita telah memasuki periode serangan terus-menerus sampai kalian dihukum dan menyesali perbuatan kalian,” tambah Zolfaghari.
Selain ancaman militer, Iran juga memperingatkan dampak ekonomi global.
Zolfaghari menyebut upaya Barat untuk menurunkan harga minyak secara buatan tidak akan berhasil.
Ia meminta dunia bersiap menghadapi lonjakan harga energi yang ekstrem akibat ketidakamanan yang disebabkan oleh kehadiran pasukan AS di kawasan tersebut.
“Sejak awal perang, kami telah memberi tahu kalian untuk bersiap menghadapi harga minyak USD 200 per barel,” pungkasnya. (*)
Sumber Berita: Rangkuman Pernyataan IRGC via Ali Abunimah / Korespondensi Teheran (11 Maret 2026)













