LABUHA, Falalamo – Kasus Nurdiana Baadia (13), gadis penderita hidrosefalus asal Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, Halmahera Selatan, menjadi pengingat pentingnya pemahaman masyarakat tentang penyakit langka ini.
Hidrosefalus yang diderita Nurdiana sejak usia dua bulan menunjukkan betapa krusialnya deteksi dan penanganan dini.
Hidrosefalus adalah kondisi serius akibat penumpukan cairan serebrospinal (CSF) berlebihan di dalam ventrikel otak.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan tekanan pada sel-sel otak dan berpotensi merusak saraf.
Kasus serupa pernah ditangani di Maluku Utara pada Juli 2023, ketika RSUD Tobelo melakukan operasi bedah saraf pertama untuk balita 8 bulan bernama Nasya Queen Seng.
Operasi tersebut ditangani langsung oleh Prof. Dr. dr. Eka J. Wahjoepramono, Sp.BS, dari Tim Bedah Saraf Siloam Indonesia.
Pentingnya Penanganan Cepat
Prof. Eka menjelaskan bahwa hidrosefalus adalah penumpukan cairan di rongga otak yang meningkatkan tekanan pada otak.
“Pada bayi dan anak-anak, hidrosefalus membuat ukuran kepala membesar. Sedangkan pada orang dewasa, kondisi ini bisa menimbulkan sakit kepala hebat,” ungkap dokter spesialis bedah saraf tersebut.
Menurutnya, penyakit ini makin cepat ditangani makin baik hasilnya.
“Jika terlambat akan makin jelek, dan kepalanya bisa membesar seperti buah semangka. Apalagi kalau sudah ada alat CT Scan maka lebih cepat mendiagnosa,” kata Prof. Eka, dikutip dari infopublik.id, saat menangani kasus di Tobelo.
Dokter spesialis bedah saraf ini menjelaskan bahwa cairan otak diproduksi secara terus-menerus dan diserap oleh pembuluh darah.
“Hidrosefalus terjadi ketika produksi dan penyerapan cairan otak tidak seimbang,” jelasnya.
Kondisi Nurdiana yang terhambat penanganannya selama 13 tahun menunjukkan dampak keterlambatan diagnosis dan pengobatan.
“Awalnya Nurdiana demam tinggi dan kejang-kejang di usia satu bulan,” ungkap Alwia Arajang, ayah Nurdiana, yang akhirnya harus membawa anaknya ke RSUD Chasan Boesoeri Ternate namun terkendala biaya.
Gejala hidrosefalus berbeda pada setiap kelompok usia. Pada bayi baru lahir, tanda-tandanya meliputi kantuk berlebihan, anggota tubuh kaku, keterlambatan perkembangan, dan ukuran kepala sangat besar dengan kulit tipis.
Bayi juga dapat mengalami pernapasan tidak teratur dan kejang berulang.
Pada anak-anak dan dewasa, gejalanya berupa kelemahan, sakit kepala parah, muntah proyektil, mengantuk, dan kebingungan.
Penderita juga dapat mengalami kejang berulang, penglihatan kabur, hingga inkontinensia.
Diagnosis dan Penanganan
Diagnosis hidrosefalus memerlukan pemeriksaan komprehensif meliputi wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan tes pencitraan.
CT scan digunakan untuk penilaian darurat, sementara MRI memberikan gambaran otak lebih detail. USG lebih aman untuk janin atau bayi baru lahir.
Penanganan utama melalui prosedur bedah untuk mengeluarkan kelebihan CSF.
Dua metode yang umum digunakan adalah pemasangan shunt dan Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV).
Pemasangan shunt menggunakan selang untuk mengalirkan CSF ke bagian tubuh lain, biasanya rongga perut.
Pengalaman operasi sukses di RSUD Tobelo pada 2023 menunjukkan pentingnya pemerataan akses pelayanan kesehatan spesialis.
Prof. Eka menekankan bahwa operasi bedah saraf tidak harus selalu dilakukan di kota besar, asalkan tersedia sarana dan prasarana yang memadai.
Kasus Nurdiana yang terhambat penanganannya karena keterbatasan biaya menjadi catatan penting bagi sistem kesehatan.
Deteksi dini dan akses pengobatan yang terjangkau dapat mencegah kondisi semakin memburuk seperti yang dialami gadis asal Desa Babang tersebut. (*)













