Labuha, falalamo.com – Warga Kepulauan Joronga, Kabupaten Halmahera Selatan, kini mengolah ubi kayu atau yang dikenal warga lokal sebagai kasbi (Manihot utilissima) menjadi produk bernilai jual tinggi.
Bahan pangan lokal tersebut disulap menjadi keripik aneka rasa hingga tepung mocaf (Modified Cassava Flour).
Inovasi ini diperkenalkan melalui serangkaian pelatihan pengolahan pangan yang berlangsung di tiga desa, yakni Desa Liboba Hijrah, Desa Yomen, dan Desa Kurunga pada 18–26 September 2026.

(Dok. Program TEKAD)
Kegiatan ini digagas oleh Fasilitator Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Kementerian Desa (Kemendes).
Untuk menggembleng warga, panitia menghadirkan akademisi dari Universitas Khairun Ternate, Dr. Natal Basuki dan Mahdi Tamrin, dengan pendampingan langsung dari Fasilitator Kabupaten (Faskab) Bidang Ekonomi serta Fasilitator Kecamatan.
Selama tiga hari di setiap desa, para peserta menerima pembekalan teori mengenai teknik pengolahan ubi kayu unggulan.
Pelatihan ini menjadi wadah penting untuk membuka wawasan warga mengenai potensi bisnis pangan lokal.
Tak hanya teori, peserta juga mendapati sesi praktik langsung.
Mereka memproduksi keripik singkong, mengolah tepung mocaf, hingga mempelajari teknik pengemasan (packaging) produk yang menarik di bawah bimbingan para ahli.
”Kami merancang metode pembelajaran ini agar warga memperoleh keterampilan teknis secara langsung. Harapannya, mereka paham bahwa ubi kayu punya potensi komersial yang besar, bukan sekadar untuk konsumsi rumah tangga,” ujar Dr. Natal Basuki, akademisi Universitas Khairun Ternate.

(Dok. Desa Liboba Hijrah/Program TEKAD)
Melalui pelatihan ini, warga berhasil mengolah kasbi menjadi keripik dengan beragam varian rasa favorit, seperti balado, barbeque, original, hingga manis, di samping produk tepung mocaf.
”Kegiatan ini mendorong warga Kepulauan Joronga untuk melihat potensi bahan pangan lokal secara lebih luas. Keripik aneka rasa sangat prospektif sebagai camilan, sedangkan tepung mocaf menjadi bahan baku olahan alternatif,” kata Mahdi Tamrin.
Pihak fasilitator kini mengambil langkah lanjutan untuk merealisasikan potensi bisnis produk olahan warga tersebut.
Mereka membawa sampel produk untuk mengurus izin edar serta legalitas usaha lainnya sebelum produk dipasarkan secara masif.
”Kami siap memfasilitasi proses perizinan produk-produk ini. Selain dipasarkan secara luas, kami juga memproyeksikan olahan kasbi ini untuk tampil di berbagai pameran UMKM tingkat lokal maupun nasional,” tegas Faskab Bidang Ekonomi, Dardai.
Kolaborasi antara akademisi dan fasilitator lapangan ini diharapkan mampu menciptakan pengembangan produk yang berkelanjutan.
Dengan demikian, olahan ubi kayu dapat mendongkrak perekonomian dan kemandirian warga Kepulauan Joronga. (*)












