Ternate, falalamo – Peta kekuatan ekonomi kabupaten/kota di Maluku Utara mengalami perubahan besar dalam satu dekade terakhir.
Pergeseran itu diuraikan Ketua Lembaga Riset SIDEGO sekaligus Ekonom Universitas Khairun, Dr. Mukhtar A Adam, yang menilai dominasi antarwilayah kini berlangsung jauh lebih dinamis.
Mukhtar menyebut data historis menunjukkan bahwa pada 2014 pusat ekonomi Maluku Utara masih dikuasai Kota Ternate, disusul Halmahera Utara dan Halmahera Selatan.
Sementara Halmahera Timur dan Halmahera Tengah menempati posisi terbawah.
“Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 2021 pascapandemi, situasinya berubah ekstrem. Halmahera Tengah menanjak tajam, sementara Ternate jatuh dan terus menurun,” kata Mukhtar.
Menurut Mukhtar, Halmahera Tengah menjadi daerah dengan akselerasi ekonomi paling konsisten.
Kenaikan ini didorong ekspansi industri pertambangan dan kawasan industri pengolahan nikel.
Sementara itu, Kota Ternate mengalami tren penurunan karena tidak memiliki basis industri ekstraktif.
Ekonomi kota tersebut masih bertumpu pada perdagangan dan jasa, yang kini mulai tersaingi oleh Sofifi sebagai pusat pemerintahan provinsi.
Dalam analisisnya, Mukhtar memperkirakan akan ada rotasi baru pada peringkat ekonomi Maluku Utara.
Halmahera Timur disebut berpotensi menyalip Halmahera Utara yang turun drastis dari posisi kedua.
“Dalam beberapa tahun ke depan, Haltim akan kembali berada di posisi keempat. Bahkan bisa naik ke posisi ketiga karena Ternate makin terperosok,” ujarnya.
Tambang Jadi Mesin Pertumbuhan Halteng, Haltim, dan Halsel
Mukhtar menilai masing-masing kepala daerah kini berebut dominasi dengan mengerahkan sektor unggulannya.
“Halteng, Haltim, dan Halsel menggunakan tambang dan industri turunannya sebagai mesin pertumbuhan utama,” kata Mukhtar.
Sebaliknya, Ternate tetap mengandalkan sektor jasa, meski pertumbuhannya semakin terbatas.
Halmahera Utara kini memasuki fase transisi setelah dua dekade bergantung pada sektor tambang melalui aktivitas PT NHM.
Mukhtar mengatakan Halut mulai mengembangkan strategi baru berbasis pertanian dan pengolahan kelapa.
“Halut sadar tidak bisa lagi mengandalkan tambang. Mereka mulai menata ekonomi inklusif berbasis industri kelapa,” jelasnya.
Namun ia menilai strategi ini bersifat gradual sehingga tidak langsung mengembalikan dominasi ekonomi Halut.
Morotai, Halbar, dan Tidore Melambat
Beberapa wilayah lain justru menunjukkan stagnasi. Morotai yang sebelumnya masuk program “10 Bali Baru” kini melambat setelah KEK tidak dilanjutkan pemerintah pusat, Halmahera Barat juga dinilai kehilangan arah.
“Potensinya ada, tetapi inisiatif pembangunan tidak muncul,” ucap Mukhtar.
Kota Tidore menurutnya stagnan karena minim inovasi dan tetap bergantung pada belanja pemerintah.
Taliabu Terjepit, Sula Kian Tergerus
Kabupaten Pulau Taliabu, yang secara geografis dekat dengan pusat pertumbuhan di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, justru tidak mampu memanfaatkan peluang.
Sementara Kabupaten Kepulauan Sula terus merosot dan semakin jauh dari masa kejayaan Sanana pada era sebelumnya. (*)













