Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
ekonomiMaluku Utara

Sulut Ikut Panen Dampak Ekonomi Malut

×

Sulut Ikut Panen Dampak Ekonomi Malut

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi statistik ekonomi falalamo.com
Ilustrasi gambar (PIXABAY)

Ternate, falalamo – Pertumbuhan pesat sektor pertambangan dan industri pengolahan di Maluku Utara dalam empat tahun terakhir dinilai memberi efek limpahan ekonomi signifikan ke Sulawesi Utara (Sulut).

Ekonom Universitas Khairun, Mukhtar A Adam, menyebut Sulut menjadi provinsi yang justru paling menikmati dampak ekspansi industri nikel di Malut.

Data PDRB menunjukkan perekonomian Sulut tumbuh dari Rp132,23 triliun pada 2020 menjadi Rp187,37 triliun pada 2024.

Kenaikan 42,6 persen dalam empat tahun ini dinilai stabil dan sebagian dipengaruhi oleh lonjakan permintaan barang dan jasa dari Malut.

Mukhtar menjelaskan hubungan kedua daerah ini bersifat struktural.

Pelabuhan Bitung menjadi pintu logistik utama bagi ribuan ton kebutuhan industri dan konsumsi di Malut.

Baca Juga  Ombudsman Soroti Tantangan Hilirisasi dan Keadilan Ekonomi di Maluku Utara

Di saat bersamaan, sektor perdagangan, hortikultura, dan industri jasa di Sulut mendapatkan pasar baru yang terus membesar sejak masuknya lebih dari 100 ribu tenaga kerja di kawasan industri nikel Maluku Utara.

“Permintaan pangan, pergudangan, transportasi, logistik, sampai layanan kesehatan melonjak karena arus pekerja dan suplai komoditas dari Malut. Ini membuat perdagangan Manado–Ternate, Bitung–Ternate, hingga Manado–Halmahera jauh lebih padat dibanding empat tahun lalu,” ujar Mukhtar.

Kenaikan arus barang juga terlihat pada pertumbuhan pergerakan logistik 2021–2024 melalui jalur laut dan udara.

Menurut Mukhtar, hal ini menegaskan bahwa ekspansi industri di Malut membuka peluang ekonomi yang dinikmati lebih luas oleh daerah sekitar, dan Sulut menjadi penerima manfaat terbesar.

Baca Juga  Pertanian Masih Jadi Penyangga Tenaga Kerja Malut Meski Pertumbuhan Turun

Sebelumnya, sejumlah ekonom nasional juga menyoroti fenomena serupa. Pertumbuhan tinggi Maluku Utara dinilai tidak sepenuhnya menetes ke masyarakat lokal karena ekonomi yang didominasi sektor padat modal.

Kondisi itu membuat limpahan ekonomi justru mengalir keluar ke daerah pemasok utama, termasuk Sulut.

Mukhtar menyebut pola ini sebagai “asimetris,” di mana pusat industri mengalami pertumbuhan, tetapi provinsi pemasok barang, pangan, dan jasa mendapatkan keuntungan lebih besar secara agregat. “Sulawesi Utara menjadi provinsi yang paling menikmati pertumbuhan ekonomi Maluku Utara,” tegasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *